Heru mengatakan jika dilihat sekilas memang tidak semua orang akan menggagas ada lambang Garuda di ujung gambar resleting yang tidak seharusnya berada di sana dan hanya melihat kreatifitas. Namun ia meyakini penempatan lambang garuda itu tidak bermaksud buruk.
"Mungkin tidak semuanya cermat, jujur saja kalau sekilas saya melihat tidak terlalu 'jauh', ini nyeni, lupa ada simbol lambang negara," kata Heru usai melihat baliho tersebut, Rabu (20/5/2015).
Heru menilai kritik dan masukan termasuk himbauan dari TNI merupakan pembelajaran kepada bagian Humas Pemrov terkait disain baliho yang akan dipasang.
"Kalau ada kekhilafan kemudian ada masukan masyarakat kita hargai. Ini untuk pembelajaran, tidak ada maksud buruk," tegasnya.
Diketahui baliho berukuran 13x4 meter itu terdiri dari warna merah di bagian atas dan putih seperti bendera. Diantaranya terdapat resleting berwarna emas yang ujungnya terdapat lambang Garuda Pancasila yang bagian kepala garudanya dikaitkan. Kemudian di bagian warna merah terdapat tulisan "Bangkit! Merawat Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional" dan di bagian warna putih terdapat logo Pemprov Jateng dan 107 tahun Kebangkitan Nasional.
Mengetahui baliho itu, Dandim 0733 Kota Semarang, Letkol Puji Setiono datang menemui Kabag Humas Pemprov Jateng, Sinung. Ia meminta baliho tersebut segera diturunkan.
"Suatu kreatifitas tapi salah, karena membuat lambang negara ditempatkan tidak pada porsinya. Ada merah putih dan resleting dan garuda jadi ritsleting bahkan ada bagian terbuka antara merah dan putih," kata Puji.
Sementara itu Sinung mengatakan maksud dari gambar tersebut sebetulnya bermakna positif yaitu bangkit merapatkan dan menyatukan Indonesia dengan wujud resleting.
"Dari persentasi kemarin artinya bangkit merapatkan Indonesia, saatnya megembalikan pada rel yang benar dan kita wujudkan resleting, menyatukan berbagai sudut pandang, menyambungkan merah putih dan lambang," ujarnya
(Angling Adhitya Purbaya/Triono Wahyu Sudibyo)










































