Ujian ini digagas Program Pembibitan Penghafal Alquran Darul Quran (PPPA Daqu). Ujian tahfidz ini berlangsung di Masjid Al Barkah, Jalan Mekar Baru 1, Kampung Baru, Kelurahan Cirendeu, Ciputat, Rabu (20/5/2015).
"Mendengarnya saja sudah menggetarkan hati, belum lagi ditambah dengan melihat kawan-kawan di sini mendawamkan hafalannya," ujar Direktur Utama PPPA Daqu, Muhammad Anwar Sani.
Ia melanjutkan, fisik yang berbeda dari masyarakat kebanyakan, tidak membuat mereka ragu untuk ikut serta dalam ujian tahfidz. Pada ujian tahfidz skala nasional pertama ini, sebanyak 125 tunanetra ikut serta tergabung di dalamnya.
Baik laki-laki dan perempuan semua bersemangat mendawamkan hafalan yang dimilikinya. Latar belakang usia tidak menjadi alasan untuk minder. Mereka yang muda tak ingin kalah dengan yang lanjut usia, begitu pula sebaliknya. Mereka yang lanjut usia pun tak ragu unjuk kemampuan.
Anwar Sani menyebutkan, khusus untuk kali ini ujian tahfidz yang diujikan hingga lima juz. Tidak harus beraturan, para peserta bisa memulainya dari juz 30.
"Tetapi ada peserta ujian yang mendawamkan hafalan hingga 10 juz banyaknya," tukas Anwar Sani sembari menyatakan ujian kali ini diikuti oleh binaan rumah tahfidz Nurul Qolbi 1 Pondok Cabe, Nurul Qolbi 2 Bogor, Nurul Qolbi 3 Kreo dan Nurul Qolbi 4 Cinere.
Salah satu peserta ujian, Ibrahim mengatakan, sangat antusias dapat mengikuti ujian tahfidz ini. Dia jadi dapat mengetahui bagaimana kualitas seluruh hafalan yang dimilikinya.
Pria berusia 55 tahun yang telah dikaruniai tujuh orang putra ini mengujikan hafalan surah Al Baqarah. Ia mengakui, selama ini selalu memotivasi diri menghafal Alquran karena menanamkan diri bahwa seorang hamba wajib mempelajari dan menghafal Alquran.
"Menghafal sangat penting bagi setiap umat Muslim khususnya pada saat salat. Mengingat, untuk memperoleh kekhususnya dalam salat, setidaknya kita harus memahami apa yang kita baca," katanya.
Sudah satu tahun Ibrahim bergabung dalam Rumah Tahfidz Nurul Qolbi 3 Kreo. Pun, tergabung dalam Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia di Banten. Bagi Ibrahim dan teman-temannya, tunanetra bukanlah alasan untuk tidak menghafalkan Alquran.
(Khairul Ikhwan/Triono Wahyu Sudibyo)










































