Kiprah Ashin Wirathu, Biksu Kontroversial Buddha Radikal

Kiprah Ashin Wirathu, Biksu Kontroversial Buddha Radikal

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Rabu, 20 Mei 2015 12:45 WIB
Kiprah Ashin Wirathu, Biksu Kontroversial Buddha Radikal
(Foto: AFP)
Jakarta - Ashin Wirathu, biksu Buddha ini cukup ternama di Burma alias Myanmar. Sebagai pemimpin spiritual, petuahnya cukup didengar. Namun, berbagai media di dunia menilai dirinya kontroversial, radikal, garis keras atau 'Bin Laden Burma'. Berikut kiprah Ashin Wiratu.

1. Kampanye Boikot Bisnis oleh Muslim hingga Dibui

(Foto: Al Jazeera)
Biksu Ashin Wirathu lahir tahun 1968 di dekat Mandalay, Myanmar. Dia meninggalkan sekolah saat berusia 14 tahun untuk menjadi biksu. Seperti dilansir Guardian edisi Kamis, 18 April 2013, pada tahun 2001, Ashin membuat gerakan boikot bisnis yang dijalankan oleh orang Muslim "969 Movement"

Kampanye 969 itu adalah "buy Buddhist and shop Buddhist" alias hanya membeli dari toko dan bisnis yang dijalankan orang-orang Buddha, meminta orang Buddha menandai rumah dan toko mereka dengan angka "969" yang mengacu pada 9 atribut, 6 poin ajaran dan 9 perintah Buddha. Kampanye ini dinilai membuat negara apartheid.

Karena gerakannya itu Ashin dibui pada 2003 dengan hukuman penjara selama 25 tahun. Pemimpin Myanmar saat Ashin dibui adalah Tan Shwe. Namun, Ashin yang seharusnya dibebaskan tahun 2028 akhirnya dibebaskan pada tahun 2012. Pembebasan Ashin adalah atas pengampunan atau amnesti terhadap tahanan oleh pemimpin Myanmar, Presiden Thein Sein.

2. Menjuluki Diri 'Bin Laden Burma' dan Picu Kekerasan

(Foto: AFP)
Setelah dibebaskan tahun 2012, Ashin menjuluki dirinya sendiri 'Bin Laden Burma', demikian dilansir BBC edisi 2 Mei 2013. Pada Maret 2012, kekerasan pada Muslim merebak di Kota Meiktila, di pusat Myanmar.

Kekerasan bermula di toko emas milik seorang Muslim tanggal 20 Maret 2012 lalu. Penduduk di sekitar mengatakan kepada BBC bahwa pasangan muda berkunjung untuk menjual perhiasan. Namun terjadi perdebatan soal harga, yang akhirnya menjadi perkelahian.

Kemudian seorang biksu Buddha diserang. Ia meninggal di rumah sakit kota itu. Berita insiden ini menyebar dan menyebabkan serangan massa terhadap semua rumah dan toko milik warga Muslim. Ada sejumlah versi bagaimana kekerasan ini menyebar.

Namun di balik sengketa ini adalah kekhawatiran dan kebencian terhadap Muslim. Ini terlihat dalam hari-hari terakhir ini di seluruh Burma.
Salah seorang pemicu kekerasan adalah Ashin Wirathu, biksu di Mandalay yang berusia 45 tahun.

3. Tak Ingin Seperti di Indonesia

(Foto: Reuters)
Ashin Wirathu mengorganisir protes mendukung kelompok Buddha di negara bagian Rakhine, tempat pecahnya sengketa komunal Juni 2012 lalu, demikian seperti dilansir BBC edisi 4 April 2013. Ashin menerbitkan pidato berisi pesan kebencian.

"Kami Buddha Burma terlalu lunak," katanya. "Kami tidak memiliki jiwa patriotik."

"Mereka -orang Muslim- bagus dalam sisi bisnis, mereka menguasai transportasi, konstruksi. Kini mereka akan mulai mengambil alih partai politik kami."

"Bila ini terjadi, kami akan berakhir seperti Afghanistan atau Indonesia," kata Ashin

Ia menuduh pria Muslim berulang kali memperkosa wanita Buddha dengan menggunakan kekayaan mereka untuk menggoda. Burma memiliki sejarah panjang ketidakpercayaan antara komunitas. Hal ini terpendam dan muncul sekali-kali saat militer berkuasa. Namun konflik ini sekarang terbuka dan menyebar dalam iklim kebebasan baru yang seharusnya membawa Burma ke arah negara yang lebih baik.

4. Dibela Presiden Thein Sein

(Foto: Democratic Voice of Burma)
Pada tahun 2013, Ashin Wirathu, menjadi berita sampul majalah terbitan Amerika Serikat, TIME, yang beredar di seluruh dunia itu dengan judul "Wajah Teror Buddha". Sejak dia dibebaskan tahun 2012 hingga 2013, kekerasan komunal antara Muslim dan Buddha meletus tak henti-henti.

Pada April 2013, di Meiktila, paling tidak 20 anak laki Muslim diambil dari madrasah dan dibunuh. Mayat-mayat mereka disiram bensin dan dibakar. Tulang belulang mereka yang terbakar masih terlihat di antara abu bangunan. Sekilas, Meiktila tampak tenang dan teratur. Tentara, yang biasanya tidak terlihat pada era baru Burma, kembali ke jalan-jalan. Jam malam diterapkan di daerah itu. Kekerasan di Meiktila mengejutkan para anggota parlemen daerah.

Sekitar 30% penduduk Meiktila adalah Muslim. Mereka menonjol dalam bisnis, dan banyak yang memiliki toko. Saat ini, sebagian besar dari mereka terpaksa tinggal di kamp-kamp dengan penjagaan ketat polisi.

Wartawan BBC untuk kawasan Asia Tenggara, Jonathan Head, melaporkan Presiden Thein Sein menyebut Wirathu sebagai anggota dari ordo yang terdiri dari orang-orang luhur yang memperjuangkan perdamaian dan kesejahteraan, demikian dilansir BBC edisi 24 Juni 2013.

Gambaran tersebut amat kontras dengan pernyataan biksu itu sendiri, yang menyebut Islam sebagai momok yang mengancam karakter Burma dan oleh karena itu harus dirobek-robek. Dalam rangkaian kekerasan sekatrian di Burma, sejumlah pihak juga menuding pemerintah Burma tidak berbuat banyak untuk mencegah berkembangnya sentimen anti-Muslim.

5. Sebut Pejabat PBB 'Pelacur'

Pejabat PBB Yanghee Lee (Foto: EPA)
Pada Januari 2015 lalu, Pemerintah Myanmar tengah menyelidiki pidato biksu kenamaan, Ashin Wirathu, yang menyebut utusan PBB sebagai pelacur dan wanita jalang.

Wirathu mengeluarkan kata-kata tersebut saat berpidato dalam unjuk rasa menentang pejabat PBB Yanghee Lee, yang mengatakan prihatin dengan nasib minoritas Muslim.

Yanghee Lee secara khusus menyoal diskriminasi terhadap warga Rohingya, yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Diplomat Korea Selatan ini melakukan kunjungan 10 hari ke Myanmar pekan awal Januari 2015, demikian dilansir BBC edisi 21 Januari 2015 lalu.

Pernyataan Yanghee Lee ini dilaporkan membuat para biksu garis keras marah, yang menganggap orang-orang Rohingya sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh, yang memaksa masuk ke negara Myanmar yang berpenduduk mayoritas Buddha.
Halaman 2 dari 6
(nwk/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads