"Faktor keperawanan seseorang tidak mempengaruhi kompetensi maupun kapabilitas seseorang dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai anggota TNI," ujar anggota Komisi I DPR, Charles Honoris dalam penjelasannya, Selasa (19/5/2015).
Dia meyakini keperawanan tidak bisa menjadi patokan moral hazard seseorang. Lagipula tes ini dianggap diskriminatif.
"Prosedur tes keperawanan yang dilakukan oleh TNI dalam menseleksi calon prajurit perempuan diskriminatif dan melanggar hak asasi calon anggota TNI. Untuk itu Panglima TNI harus segera menghapus ketentuan tersebut," lanjut Charles.
Charles merujuk pada Konvensi Internasional mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita pada tahun 1984. Dengan kata lain, konvensi yang sudah diratifikasi otomatis sudah menjadi Undang-undang.
Pasalnya tes serupa juga tidak diterapkan pada calon prajurit TNI pria. Jika menerapkan equal treatment, harus ada juga tes yang sama bagi para pria.
"Apabila tidak ada tes serupa yang diberlakukan terhadap calon anggota pria maka aturan tersebut diskriminatif," tandasnya.
TNI sendiri memiliki alasan sendiri memasukkan materi keperawanan itu. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya menjelaskan tes keperawanan itu masuk menjadi salah satu materi tes kesehatan.
Fuad memaparkan, bahwa dalam rekrutmen calon taruna/taruni TNI itu, ada 3 faktor utama yang harus dipenuhi. Syaratnya 3 T yakni:
1. Tanggap mencakup intelektual atau IQ harus di atas rata-rata.
2. Tanggon menilai mentalitas, kepribadian dan loyalitasnya harus bagus.
3. Trengginas meliputi fisik yang prima.
"Khusus untuk perempuan, salah satunya memang harus virgin, perawan. Kalau tidak virgin bagaimana? Ya bisa, tapi penyebabnya apa? Kalau kecelakaan atau kesehatan, bisa. Tapi kalau pergaulan dan seperti itu, artinya kepribadiannya tidak bagus, tidak bisa," jelas Fuad.
Yang bisa menentukan dalam tes kesehatan adalah dokter, dan harus dokter perempuan. "Ya dokternya perempuan," tuturnya.
Fuad pun memberikan contoh, bila TNI yang tugasnya menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa memiliki kepribadian yang tidak bagus, maka yang dijaganya juga akan hancur.
(mok/dha)











































