Sadriansyah sudah meringkuk di Mapolresta Samarinda, sejak Jumat (15/5/2015). Dia ditahan atas laporan putri kandung ketiganya, Mawar (bukan nama sebenarnya), yang masih berusia 15 tahun.
"Anaknya ini saat mau diperkosa melarikan diri ke rumah temannya dan menceritakan kelakuan ayahnya. Kemudian paman temannya ini membawa korban melapor ke polisi dan akhirnya ayahnya kita tangkap," kata Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro, Minggu (15/5/2015).
Sadriansyah dijerat dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.
Berikut kebiadaban Sadriansyah, seperti dirangkum, Senin (18/5/2015):
Perkosa Anak di Depan Istrinya
|
|
"Jadi ibunya melihat perkosaan itu ada sekitar 2 kali," kata Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro saat berbincang dengan detikcom, Minggu (15/5/2015).
Dijelaskan Siswantoro, Sadriansyah memperkosa anaknya dalam kurun waktu 2014 secara berulang kali. Aksi bejatnya itu dilakukan di rumah kontrakan mereka.
Sadriansyah melakukan aksi biadab itu di kamar anaknya. Di mana kamar itu hanya diberi sekat kain dengan kamar pelaku dan istrinya. "Jadi ibu korban bisa melihat," imbuh Siswantoro.
Istri pelaku tak berani melawan karena mendapat ancaman dari Sadriansyah. RU juga sering mendapatkan siksaan fisik dari suaminya tersebut.
"Ibunya melihat sendiri (anak diperkosa), cuma takut melaporkan. Ia takut dibunuh apabila melaporkan. Pelaku selalu mengancam istri dan anaknya itu," jelas Siswantoro.
Alasan Memperkosa: Daripada Dinikmati Orang Lain
|
|
"Pengakuan pelaku saat diperiksa, dia memperkosa anaknya karena hasrat," kata Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro saat berbincang dengan detikcom, Minggu (15/5/2015).
"Kata pelaku, daripada orang lain yang menikmati tubuh anaknya, lebih baik dia," sambung Siswantoro menirukan ucapan Sadriyansah.
Dijelaskan Siswantoro, Mawar sudah diperkosa Sadriansyah sejak 2004 lalu. Korban yang masih duduk di bangku SMP itu diperkosa berulang-ulang di rumahnya.
"Anaknya diperkosa korban berulang-ulang di bawah ancaman. Kalau melapor akan dibunuh," ucap Siswantoro. Ibu korban RU (35) juga tak berani bicara karena diancam akan dihabisi.
Bunuh 4 Anak yang Masih Kecil
|
ilustrasi
|
Menurut Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro, Minggu (15/5/2015), Sadriansyah membunuh keempat anaknya itu dari kurun waktu 1997 hingga 2008.
"Keempatnya dibunuh pelaku secara keji," kata Siswantoro.
Dijelaskan Siswantoro, 4 bocah malang yang dibunuh Sadriansyah adalah Santi Purwasih (perempuan usia 1 bulan) tahun 1997, Saparudin (laki-laki usia 2 bulan) tahun 1998, Marhat (laki-laki usia 3 bulan) tahun 2001, dan Syahrul (usia 4 bulan) tahun 2008.
Santi merupakan anak pertama, Saparudin anak kedua, Marhat anak keempat, dan Syahrul (anak kelima). "Korban yang diperkosa itu anak ketiga pelaku," jelas Siswantoro. Menurutnya, ada satu lagi anak bungsu laki-laki pelaku yang masih bertahan hidup meski mengalami gangguan mental akibat kerap disiksa.
Siswantoro mengatakan, Santi dibunuh pelaku dengan cara dibekap dengan bantal, Saparudin dicekik hingga mati, dan Marhat dibekap hidungnya hingga mengembuskan nafas terakhir.
"Sedangkan yang 2008 ditenggelamkan di drum berisi air dan mulutnya dimasukkan minyak jelantah sampai mati," jelas Siswantoro.
Menurut Siswantoro, masyarakat tak ada yang menaruh curiga dengan kematian 4 anak Sadriansyah yang dimakamkan di beberapa tempat pemakaman umum (TPU). Istri pelaku RU (35) juga bungkam karena kerap disiksa dan diancam dibunuh.
"Istri dan anaknya yang diperkosa itu bungkam, nggak berani cerita ke siapa-siapa karena diancam dibunuh. Aktivitas mereka seperti biasa. Tetangga nggak curiga. Pelaku juga kurang bergaul," imbuhnya.
Alasan Bunuh Anak: Benci Tangisan
|
ilustrasi
|
"Pengakuan pelaku, dia nggak tahan mendengar suara tangisan, dia benci tangisan anak kecil," kata Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro saat berbincang dengan detikcom, Minggu (15/5/2015).
Dijelaskan Siswantoro, Sadriansyah juga mengaku membunuh 4 anaknya karena trauma sering dipukuli abang-abangnya ketika masih kecil. Trauma itu kemudian berbuah dendam yang malah dilampiaskan ke anak-anaknya.
"Saat kecil dia sering dipukuli sama abang dan kakaknya. Dia trauma makanya berbuat demikian," imbuh Siswantoro.
Menyesal
|
ilustrasi (Getty Images)
|
"Iya, dia baru menyadari pada saat kita periksa. Waktu kita bawa ke kuburan anak-anaknya yang dikubur di 3 TPU, dia nangis," kata Kapolsek Sungai Kunjang Kompol Siswantoro saat berbincang dengan detikcom, Minggu (15/5/2015).
Untuk mencari alat bukti, selain mengumpulkan keterangan para saksi, polisi memang meminta warga Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) ini menunjukkan kuburan keempat anak kandungnya yang dia bunuh secara keji itu. Polisi juga telah melakukan olah TKP di rumah pelaku.
Di TKP itu, lanjut Siswantoro, polisi memeriksa di mana saja lokasi Adriansyah memerkosa putrinya secara berulang-ulang selama setahun di 2014. Selain itu pihaknya juga memeriksa alat bukti dan berbagai tempat di mana pelaku membunuh empat anaknya.
Ditambahkan Siswantoro, polisi akan terus berupaya menggali bukti-bukti untuk memperjelas kekejian pelaku. Kamis (21/5/2015) mendatang, makam Syahrul akan dibongkar untuk dilakukan autopsi pada jenazahnya.
"Kamis depan kuburan anaknya yang dibunuh pelaku di 2008 mau dibongkar rencananya," imbuh Siswantoro. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan kuburan 3 anaknya yang lain akan dibongkar untuk mencari bukti-bukti. Pihaknya masih akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, salah satunya tim forensik.
Halaman 2 dari 6










































