Ketua DPD Minta Kampus yang Jual Beli Ijazah Ditutup

Ketua DPD Minta Kampus yang Jual Beli Ijazah Ditutup

Moksa Hutasoit - detikNews
Senin, 18 Mei 2015 14:54 WIB
Ketua DPD Minta Kampus yang Jual Beli Ijazah Ditutup
Jakarta - Menristek Dikti M Nasir menerima laporan 18 kampus melakukan praktik jual beli ijazah dan menerbitkan ijazah palsu. Kampus-kampus itu tersebar di Jabodetabek dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampus itu sudah selayaknya langsung ditutup.

"Harus ditutup institusinya yang melakukan itu, tidak ada kompromi," kata Ketua DPD Irman Gusman di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakpus, Senin (18/5/2015).

Menurut Irman, penyimpangan di institusi pendidikan tinggi yang seperti itu sudah terlampau parah. Dia tidak bisa membayangkan kualitas lulusan kampus abal-abal seperti itu.

β€Ž"Gimana nasib bangsa kita, orang malah memalsukan mengeluarkan ijazah palsu," kata Irman yang mengaku kaget bukan main dengan informasi itu.

Dia mendesak pemerintah harus tegas dengan pelanggaran seperti ini. Sanksi mulai dari pembekuan operasional hingga penutupan dianggap layak dikeluarkan.

β€Ž"Harus tegas, negara harus tegas," tandasnya.

Menristek Dikti M Nasir menerima laporan belasan kampus di Jabodetabek dan NTT melakukan praktik jual beli ijazah dan menerbitkan ijazah palsu. Nasir belum mau mengungkap kampus mana saja yang dilaporkan, karena masih dalam proses kajian. Namun dia memastikan akan menindak tegas kampus-kampus tersebut jika bukti sudah dikumpulkan.

"Saya tidak akan menolerir institusi pendidikan tinggi yang sengaja melakukan cara-cara kotor tersebut," ujar mantan rektor Undip ini.

17 Kampus di antaranya tersebar di Jabodetabek, dan satu lainnya berada di Kupang, NTT. Kampus-kampus yang ada di Jabodetabek disebut menjual ijazah S1 dengan harga tertentu. Mahasiswa hanya perlu kuliah setahun atau dua tahun, ijazah sarjana lalu sudah bisa diterbitkan dengan menyetor sejumlah uang.

(mok/trq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads