“Bahkan kami undang Harrison Ford untuk ikut menyuarakan ini, tetapi dampaknya masih belum kelihatan. Ujungnya adalah moral. Moral yang multi level,” kata Prof Dr Hadi S. Alikodra, Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam keterangan yang disampaikan Humas IPB, Senin (18/5/2015).
Ford pada 2014 lalu pernah datang ke Indonesia. Ford menengok taman nasional Tesso Nilo. Ford juga sempat bertemu Menhut saat itu Zulkifli Hasan.
“Dari tahun 1990-2005, Brazil sumbang deforetasi hutan sebesar 42 juta hektar, Indonesia 28 juta hektar. Sejak saat itu hingga kini, masih terjadi kerusakan, di luar gunung meletus atau tsunami. Mental attitude harus masuk, harus kita rombak dari mental yang merusak lingkungan ke alam berfikir yang mengutamakan ekologi,” terang Hadi.
Menurut dia, perlu peran moral attitude, intelektual emosial dan spiritual untuk memperbaiki hutan. Pulau Sumatera sebagai hotspot keanekaragaman hayati tertinggi di dunia harus dilindungi.
“Indonesia bisa mencontoh negara berkembang yang kini bisa mensejahterakan rakyatnya yakni Kosta Rika. Negara yang memiliki luas wilayah seluas Provinsi Jawa Barat ini membuat komitmen yang luar biasa setelah hutannya rusak hampir 100 persen. Mereka mengembangkan bisnis konservasi ekowisata pada tahun 1990, dan sekarang sudah menjadi negara makmur. Bahkan tidak ada tentara di sana. Kostarika hanya membutuhkan lima tahun untuk mencapai kemakmuran,” ungkap dia.
“Jika tidak segera dilakukan (moral attitude), maka 10 tahun lagi kita akan hancur. Susah kita fokus pada tiga dimensi, yaitu ketahanan pangan, energi, dan air. IPB bisakah mendorong itu, IPB cuma punya pengetahuan dan tidak punya kapasitas fisik,” tutup Hadi.
(ndr/mad)











































