Cerita Sang Intel Saat Sergap Penjudi Kakap Teman 'Penguasa'

Kisah Para Mantan Intel

Cerita Sang Intel Saat Sergap Penjudi Kakap Teman 'Penguasa'

Sudrajat - detikNews
Senin, 18 Mei 2015 14:25 WIB
Cerita Sang Intel Saat Sergap Penjudi Kakap Teman Penguasa
Slamet Murtedjo Singgih (Foto-detikcom)
Jakarta - Sejumlah purnawirawan jenderal yang juga mantan anggota intelijen menulis buku biografi atau memoar. Mereka antara lain; Mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya Slamet Murtedjo Singgih dan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Laksmana Muda Soleman B. Ponto.

Kisah para telik sandi negara yang selama ini misterius pun dijelaskan secara gamblang. Mulai dari cerita penyergapan, pengintaian markas lawan, hingga strategi menghadapi kongsi antara penguasa dan pengusaha.

Buku karya para mantan perwira intel itu kini mudah ditemui di rak toko-toko buku. Seperti apa kisahnya?

Lima perwira intelijen dari Kodam Jaya merapat ke Hotel Mandarin pada suatu malam di tahun 1981. Salah satu perwira tersebut adalah Mayor Slamet Murtedjo Singgih yang saat itu menjabat Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya.

Mereka tengah dalam misi menangkap para pelaku judi kelas kakap di salah satu ruangan hotel di Jalan MH Thamrin itu. Di saat operasi sudah mencapai target, tiba-tiba salah satu anak buah Slamet melaporkan bahwa di antara para penjudi tersebut ada dua nama pengusaha besar sahabat dekat penguasa intelijen saat itu, Jenderal LB Moerdani.

Mereka tengah mengerjakan tugas dari Markas Besar ABRI untuk membangun perumahan bagi pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam dan mengurusi logistik untuk operasi di Timor Timur.

Tak heran bila beberapa jenderal mengirimi “pesan khusus” kepada Slamet. Tapi ia tak peduli karena hanya menjalankan tugas dari Pangdam Jaya Mayor Jenderal Norman Sasono.

Beberapa tahun berselang, ketika sudah bertugas di Badan Intelijen ABRI, Slamet menangani kasus Cocong Arif. Importir obat-obatan dari Cina itu merupakan pesaing Ari Sigit, cucu mantan Presiden Soeharto. Tak cuma “pesan-pesan khusus” dari sejumlah jenderal dan pejabat tinggi, sejumlah pengusaha kakap di tanah air pun turut membujuk agar dia tak mengganggu Cocong.

Mungkin karena merasa banyak mengenal 'orang penting' Cocong agak angkuh selama diperiksa. “Sikapnya membuat saya tak sabar sehingga dari jauh sempat saya lempar asbak rokok,” tulis Slamet dalam biografinya, “Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu” yang dikutip detikcom, Senin (18/5/2015).

Kisah selengkapnya bisa dibaca di Majalah Detik edisi 181 pekan ini.

(Erwin Dariyanto/Triono Wahyu Sudibyo)


Berita Terkait