Mereka menyampaikan utang para ABK tersebut yang tercatat selama ini. Jumlahnya bervariasi dan tidak sedikit. Salah seorang pemberi utang, sebut saja Risma (33), menyebut total utang para awak kapal, baik dari Thailand, Myanmar, dan Kamboja, mencapai Rp 150 juta.
"Masing-masing beda, misalnya kapal 1 Rp 10 juta, ada juga yang Rp 71 juta," kata Risma ditemui di Benjina, Minggu (17/5/2015).
Risma mengaku, para ABK berutang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dan juga perbekalan selama melaut. "Ada kopi, gula, sembako, campuran, ada juga yang pinjam uang," kata Risma.
Risma tidak menunjukkan rincian apa saja utang yang diberikan dia kepada para ABK tersebut. Dia juga tidak menyebut apakah ada beberapa ABK tersebut berutang Sopi, tuak khas maluku dari pohon enau.
Bagaimana utang tersebut bisa sampai menumpuk hingga ratusan juta?
Menurut Risma, mulanya tidak ada masalah dengan utang para ABK ketika perusahaan beroperasi. "Mereka bayar ketika turun dari kapal atau bongkar muatan," kata Risma.
detikcom mencoba berbelanja dua bungkus kopi untuk membandingkan harga jual. Rupanya cukup fantastis, untuk dua kopi Rp 15 ribu.
Senasib dengan Risma, Yanti Rasid (35), juga mengaku menanggung utang ABK sebesar Rp 20 juta. Selain menjual sembako, Yanti juga memberikan utang tuak kepada para ABK, termasuk bir. Memang, kata Yanti, minum minuman beralkohol adalah kebiasaan para ABK ketika berada di daratan.
Gugus Apriandi (26), bujang asal Parung, Bogor, ini merelakan utang ABK yang tersisa di tokonya. Catatan yang dimilikinya, ada beberapa ABK yang dinilainya sudah akrab dan berutang barang-barang elektronik, total utang sebesar Rp 5,5 juta.
"Mereka kan sudah pulang, ya diikhlaskan saja," kata pria bertato naga di lengan kirinya ini.
Toko elektronik yang dikelola Gugus ada di seberang Benjina. ABK yang hendak ke sana harus menyeberang menggunakan sampan. Barang elektronik yang dijajakan cukup lengkap dari mulai handphone sampai DVD Player dan tv layar datar 21 inch. Kiri-kanan tokonya diapit tempat karaoke dan pemuas syahwat.
Lain halnya dengan warung di ujung dermaga Benjina. Sang pemilik yang merupakan warga Malang, Jatim, ini menolak memberikan utang kepada para ABK
"Sejak ada surat edaran dari PT (sebutan untuk PBR) tidak boleh memberikan utang, saya tidak lagi kasih utang ABK," kata pemilik warung yang enggan disebutkan namanya.
Cadrak, ketua RT 12 di Kecamatan Aru Tengah, menyebut wajar bila utang para ABK tersebut menumpuk hingga belasan bahkan puluhan juta. "Cara hidup mereka berlebihan," kata pria berperawakan gempal ini.
Dia mencontohkan setiap para ABK menyeberang, tidak lepas dari aktivitas melepas syahwat dan juga mabuk-mabukan. "Sampai ada juga yang utang begituan," kata Abdul Latif, rekan Cadrak, menambahkan.
Namun, tidak semua ABK yang menyeberang hanya mencari pemuas nafsu saja, ada juga yang sekadar berutang makan dan berbelanja elektonik atau pakaian di lokasi sekitar.
(Andri Haryanto/Rachmadin Ismail)










































