"Pengakuan pelaku, dia nggak tahan mendengar suara tangisan, dia benci tangisan anak kecil," kata Kapolsek Sungai Kujang Kompol Siswantoro saat berbincang dengan detikcom, Minggu (15/5/2015).
Dijelaskan Siswantoro, Sadriansyah juga mengaku membunuh 4 anaknya karena trauma sering dipukuli abang-abangnya ketika masih kecil. Trauma itu kemudian berbuah dendam yang malah dilampiaskan ke anak-anaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat bocah malang yang dibunuh Sadriansyah, lanjut Siswantoro, adalah Santi Purwasih (perempuan usia 1 bulan) tahun 1997, Saparudin (laki-laki usia 2 bulan) tahun 1998, Marhat (laki-laki usia 3 bulan) tahun 2001, dan Syahrul (usia 4 bulan) tahun 2008.
Santi merupakan anak pertama, Saparudin anak kedua, Marhat anak keempat, dan Syahrul (anak kelima). "Korban yang diperkosa itu anak ketiga pelaku," jelas Siswantoro. Menurutnya, ada satu lagi anak bungsu laki-laki pelaku yang masih bertahan hidup meski mengalami gangguan mental akibat kerap disiksa.
Siswantoro mengatakan, Santi dibunuh pelaku dengan cara dibekap dengan bantal, Saparudin dicekik hingga mati, dan Marhat dibekap hidungnya hingga mengembuskan nafas terakhir.
"Sedangkan yang 2008 ditenggelamkan di drum berisi air dan mulutnya dimasukkan minyak jelantah sampai mati," jelas Siswantoro.
Menurut Siswantoro, masyarakat tak ada yang menaruh curiga dengan kematian 4 anak Adriansyah yang dimakamkan di beberapa tempat pemakaman umum (TPU). Istri pelaku RU (35) juga bungkam karena kerap disiksa dan diancam dibunuh.
"Istri dan anaknya yang diperkosa itu bungkam, nggak berani cerita ke siapa-siapa karena diancam dibunuh. Aktivitas mereka seperti biasa. Tetangga nggak curiga. Pelaku juga kurang bergaul," imbuhnya.
(bar/van)










































