Cerita Haru Menko Tedjo dan Kekuatan Sebuah Doa

Cerita Haru Menko Tedjo dan Kekuatan Sebuah Doa

- detikNews
Sabtu, 16 Mei 2015 12:02 WIB
Cerita Haru Menko Tedjo dan Kekuatan Sebuah Doa
Menkopolhukam Tedjo Edhy (Salmah/ detikcom)
Jakarta - Menko Polhukam Tedjo Edhy menghadiri HUT ke-15 ESQ. Tedjo yang merupakan alumni ESQ ini bercerita tentang pengalaman spiritual yang dialaminya saat nyawanya tengah berada di ujung tanduk.

"‎Saat itu saya menjadi komandan kapal dari Jerman ke Indonesia. Cuaca saat itu cerah, musim dingin," kata Tedjo memulai cerita di depan ratusan peserta acara Milad ESQ di Menara 165, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2015).

Kapal berlayar melewati ombak samudera. Namun di tengah perjalanan badai menghadang. Kala itu Tedjo yang masih berdinas di TNI AL berpikir bisa melewati badai dengan segera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam hitungan saya, bisa melewati badai lebih cepat, tapi ternyata tidak," ucapnya.

Saat itu ombak sangat besar dan tengah malam. Kapal yang dikendarai Tedjo pecah dan mesin mati. Ia mengkomandoi 50 ABK ditambah dokter dan tenaga ahli dari Jerman.

"Saya sempat menyampaikan pesan SOS. Kapal miring 45 derajat, pinggiran kapal sudah kena air," katanya.

Di tengah kondisi mencekam itu, Tedjo merasa ada kekosongan jiwa. ‎Dia harus menyelamatkan anak buahnya dan dia juga harus menyelamatkan kapal.

"‎Ada kekosongan jiwa di mana saya tidak bisa berharap siapa-siapa. Saya hanya memohon pada Allah," ucap Tedjo.

Di tempat lain, keluarga Tedjo yang mendengar kabar kapal Indonesia karam dirundung khawatir dan kebingungan.

"‎Istri saya menangis, lalu mereka semua sholat dan berdoa,"katanya.

"‎Ada helikopter dari Spanyol menolong kita. Saya bercucuran air mata. Pertentangan batin itu muncul, saya mendapatkan semacam petunjuk saya rasa doa keluarga menyelamatkan kami saat itu," tambahnya.

Akhirnya kapal dan awak bisa diselamatkan. Tedjo dan ABK bisa kembali ke Indonesia dengan selamat setelah sebelumnya harus singgah di Spanyol untuk perbaikan kapal.

"Saat di Surabaya saya bertanya kepada anak buah, apakah kejadian ini membuat kamu takut, tapi mereka bilang tidak karena saat itu mereka melihat komandannya tenang," ucapnya.

"Pasrah dan keteladanan. Ini yang mau saya sampaikan," tutup Tedjo.

(slm/gah)


Berita Terkait