"Ada trauma yang dialami oleh sang anak," ujar Sarlito usai menemui kelima anak itu di safe house yang terletak di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2015).
"Setelah dilakukan assessment, kelima anak ini mengalami indikasi stres trauma panjang yang berkelanjutan. Baik trauma secara fisik maupun non fisik," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk D sendiri akan menjerit ketika disebut nama ayahnya, sementara putrinya yang paling bungsu selalu merengek ingin dekat dengan ibunya," ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog, Sarlito mengungkapkan bahwa ciri-ciri yang dialami oleh anak menunjukkan dugaan kalau kedua orang tua alami gangguan mental. Meski begitu pihaknya tetap harus melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi kejiwaan pasutri tersebut.
"Berdasarkan pengalaman saya selama riset 40 tahun kalau kasus seperti ini kemungkinan kedua orang tua sangat terganggu," ujarnya.
(edo/imk)










































