Pasca Bom Beirut, Dubes AS Ditarik dari Suriah
Rabu, 16 Feb 2005 10:24 WIB
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat menarik Duta Besar (Dubes)-nya dari Suriah menyusul tewasnya mantan Perdana Menteri Libanon Rafik Hariri dalam serangan bom di Beirut. Langkah ini diambil Washington untuk menunjukkan "kemarahan mendalam" atas pembunuhan figur Libanon itu.Semasa hidupnya, Hariri dikenal sebagai pemimpin Libanon yang gigih memprotes keberadaan militer Suriah di negeri itu. Sejumlah pemimpin negara, serta warga Libanon menuding Suriah berada di balik peledakan bom itu.Sekelompok warga Libanon yang marah atas kematian Hariri, menyerang para pekerja Suriah di kota Sidon. Akibatnya, beberapa karyawan di sebuah toko roti milik warga Suriah mengalami luka-luka. Kaca-kaca jendela di toko tersebut hancur berantakan.Di jalan-jalan di Beirut, warga Libanon melakukan aksi demo guna mendesak Suriah menarik sekitar 15 ribu tentaranya dari negeri itu. Pasukan Suriah telah berada di sana selama lebih dari satu dekade."Kami yakin bahwa rakyat Libanon harus bebas menyatakan pilihan politik mereka dan memilih perwakilan mereka sendiri tampa intimidasi ataupun ancaman kekerasan," ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Richard Boucher saat mengumumkan penarikan Dubes AS Margaret Scobey, seperti dilansir AP, Rabu (16/2/2005).Pejabat-pejabat AS memang tidak secara terang-terangan menuduh Suriah terlibat dalam pembunuhan Hariri. Namun Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengungkapkan bahwa pembunuhan itu merupakan "penyebab paling nyata" dari penarikan Dubes tersebut.Ketika ditanya apakah AS akan menghukum Suriah dengan sanksi ekonomi yang baru, Rice berujar, "Kami akan terus mempertimbangkan opsi-opsi lain." Dikatakannya, masalah Suriah merupakan masalah yang serius. "Masalah kami dengan pemerintah Suriah bukan hal yang baru," imbuh Rice.Sebelumnya, Dubes Suriah Imad Moustapha menyatakan bahwa mereka yang menuding Suriah berperan dalam serangan bom itu adalah "kurang logis" dan menurutnya ada kelompok yang berusaha menggunakan peristiwa itu untuk keuntungan politis demi memojokkan Suriah."Suriah tidak punya keuntungan apapun dari kejadian itu," cetus Moustapha kepada CNN. "Beberapa faksi berusaha menghancurkan Suriah dari apa yang telah terjadi, dan ini menunjukkan adanya plot jahat yang tidak hanya berhenti pada tindakan pembunuhan Rafik Hariri namun juga berupaya untuk menyalahkan Suriah," katanya.
(ita/)











































