Polisi dari Indonesia yang dikomandoi Kombes Tommy Watuliu menghadiri pertemuan yang digelar 11-16 Mei 2015 ini. Selain Tommy, hadir AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto, dan AKBP Putu Putera Sadana.
"Interaksi antar individu saat ini yang memiliki kecenderungan nirkabel dan sangat berhubungan dengan close relationship, yang memberikan opportunity bagi pelanggar hukum dalam memanfaatkan kemajuan teknologi," terang Tommy yang mengirimkan surat elektronik dari Australia, Kamis (14/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya kasus teroris, hacktivism, stolen, fraud dan hampir seluruh kejahatan terkoneksi dan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi (Malware, Phissing, Scam, Ordinary Crime), baik untuk teroris propaganda, pencurian properti, pemerasan dan lain-lain," jelas Tommy.
Menurut Tommy, poin tersebut sebenarnya justru harus memampukan masyarakat untuk menjadi polisi untuk dirinya sendiri saat surfing di Internet termasuk saat real life.
"Di samping kemampuan polisi yang mumpuni untuk melakukan undercover terhadap situs-situs bermasalah dengan hukum termasuk online investigasi, serta IT Forensik," urai Tommy.
Hal tersebut, lanjut Tommy yang menjadi topik, Expert have to hack it dalam event FBI NA Retrainer bagi para Alumni FBI yang melakukan reuni dan training up date di Gold Coast Queensland Australia.
"Masyarakat harus diberikan pemahaman secara terus menerus terkait hal-hal sederhana dalam berinteraksi di Internet terkait isu ; Do not trust anybody at cyber space, think before click dan your security is your’s," bebernnya.
"Law Enforcement dalam hal ini bagi kepolisian kuncinya adalah melakukan update knowledge dan skill terkait perkembangan modus operandi dan tools serta software juga tools anti forensik yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan," tambahnya lagi.
(ndr/fjp)











































