"El Nino yang kita prediksi di Indonesia pada bulan Mei ke sana, nggak terlalu tinggi. Sampai September 2015, El Nino lemah," jelas Kepala Bidang Informasi Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto saat dihubungi detikcom, Rabu (13/5/2015).
Menurut data BMKG, Australia mengalami El Nino lemah pada Mei 2015 dan moderat pada Juni-Oktober 2015. Jepang mengalami El Nino moderat pada Juni-Agustus 2015, dan Amerika Serikat mengalami El Nino moderat pada Mei-September 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi lemah-moderat-kuat El Nino itu juga dipengaruhi kondisi suhu muka laut. Bila suhu muka laut hangat, maka pengaruh El Nino tak terlalu besar. Sebaliknya, bila suhu muka laut dingin, bisa membuat intensitas hujan berkurang. Pengaruh kuat bila suhu muka laut dingin dirasakan di Indonesia timur dekat Pasifik, seperti Papua dan Nusa Tenggara.
"Itu pengaruhnya di Indonesia timur dekat Pasifik. Kita lihat riilnya nanti, minggu ke minggu perkembangan dari kondisi El Nino. Bila mengarah kuat dan suhu muka laut dingin, perlu diwaspadai," imbuhnya.
BMKG memantau suhu muka Laut Banda sekarang sedang hangat. Hanya di wilayah utara Papua suhu muka lautnya dingin.
"Sudah masuk kemarau, potensi hujan sudah mulai berkurang. Ditambah ada siklon tropis di Filipina mempengaruhi uap air ke arah utara. Hujan relatif berkurang karena musim kemarau," jelas dia.
Rata-rata wilayah Indonesia kini beranjak ke masa transisi alias mulai masuk kemarau. Wilayah yang mulai masuk kemarau adalah Nusa Tenggara, Jawa Timur, Sulawesi dan Papua.
Bila benar Indonesia nanti akan mengalami El Nino, maka dampaknya akan dirasakan pada akhir musim kemarau atau awal musim hujan pada September mendatang.
"Kalau El Nino kuat, musim kemarau mundur atau lebih panjang. BMKG perkirakan El Nino masih lemah sampai September, baru Oktober beranjak moderat," jelas dia.
(nwk/nrl)











































