Terbaru, Ahok mengutarakan akan memasang GPS di truk-truk sampah. Ia berharap perjalanan para sopir truk sampah terlacak. Ini dilakukan karena Ahok gemas melihat perilaku sopir truk sampah yang kerap memilih-milih lokasi pengangkutan sampah. Bahkan tidak jarang oknum sopir mengangkut sampah yang bukan di rute daerah yang seharusnya.
GPS juga diharapkan Ahok dipasang di bus TransJakarta agar bus tetap dalam kondisi prima saat beroperasi. Ahok yakin sistem ini bisa mengubah pelayanan TransJ menjadi lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut 3 cerita ini:
1. Oknum Sopir Truk 'Ngobyek'
|
|
"Iya, iya, kita bisa kontrol. Nanti diletakkan di Smart City supaya bisa kelihatan jalurnya kemana-kemana gitu," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2015).
Ahok sempat dibuat gemas dengan perilaku sopir truk sampah yang acap kali memilih-milih lokasi pengangkutan. Bahkan tidak jarang, mereka mengangkut sampah yang bukan di rute daerah yang seharusnya.
"Sewa dari swasta, ini bisa main juga, kadang dijemput, kadang enggak dijemput. Jemput punya siapapun enggak jelas, enggak ada GPS. Jemput di rumah duka, banyak bunga, dihitung di kita juga. Jemput di restoran hitung di kita juga. Kan masalah kalau begitu," terangnya.
Ahok juga menyebut tidak sedikit sopir yang memiliki 3 istri lantaran memiliki penghasilan 'bengkak'.
"Kita yang rusak semua mau beli baru. Makanya saya wajibin kenain GPS semua. Saya enggak mau oknum sopir yang kaya raya punya istri 3 gara-gata jemput sampah seenaknya. Ini saja masalah kita," keluh Ahok.
Ahok sendiri mengaku tidak mengetahui persis besaran kerugian yang diakibatkan oleh adanya upaya 'pengobyekan' yang dilakukan para sopir truk sampah.
"Waduh, aku nggak hitunglah yang pasti ada yang punya istri tiga saja," candanya.
2. Awasi TransJ Reyot
|
|
"Semua kontrak Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Jadi servis dan lain semua ada langsung di Agen Tunggal Pemegang Merk. Kita juga awasi menggunakan GPS dengan standar yang sangat ketat," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (15/4/2015).
Dengan sistem ini maka jika ada bus yang rusak atau karatan dan tidak sesuai maka ATPM harus bertanggungjawab untuk memperbaiki atau mengganti bus tersebut. ATPM menyediakan bus TransJ berdasarkan merek tunggal yang mereka miliki, misalnya seperti PT San Abadi yang merupakan ATPM penyedia bus transjakarta bermerek Ankai.
Ahok yakin sistem ini bisa mengubah pelayanan TransJ menjadi lebih baik. Dia berharap semua pihak bisa mendukung agar program ini bisa berjalan.
"Yakin (lebih baik), karena kan itu PT. Kan PT juga baru jalan tiga bulan. Kita jangan su'udzon kepada direksi PT, nggak benar," ucap Ahok.
Pengelolaan TransJakarta memang sudah dialihkan dari BLU TransJakarta ke PT Transportasi Jakarta. Pengalihan ini dilakukan tanggal 1 Januari 2015 lalu.
Sebelumnya melalui program masalah dan solusi, detikcom mencoba mengangkat masalah bus TransJ yang rusak dan bermasalah. Redaksi detikcom banyak menerima email dari pengguna TransJ soal masalah yang mereka dapati selama menggunakan TransJ. Mulai dari atap bocor saat hujan, pintu yang tak bisa menutup sempurna dan AC mati yang membuat bus menjadi panas dan pengap.
3. Taksi Pantau Macet
|
|
"Kita lagi bicara tentang minta taksi-taksi yang punya GPS ini kita mau link kepada ITS (Integrated Transport System) kita di Jl Abdul Muis (Dishub DKI, red). Supaya nanti kepadatan atau kemacetan lalu lintas itu betul-betul yang fakta. Kalau di-link-kan kita bisa baca nih, mana yang lebih padat (jalan)," kata Ahok.
Hal ini dikatakan Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2013). Nah untuk itu, Pemprov DKI dalam hal ini Dishub menawarkan untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan taksi agar GPS-nya bisa terhubung dengan ITS Dishub memantau kemacetan.
"Nah kalau semua perusahaan taksi kita taruh datanya, misal Express ada 8 ribu, Blue Bird ada berapa belas ribu. Jadi kita bisa punya 20 ribuan titik yang bisa kita tahu mana macet, nggak macet. Jadi kalau buka HP atau apa bisa tahu ini yang jalan warna merah macet," jelas Ahok.
Bila selama ini hanya mengandalkan peta dari Google, menurut Ahok, kondisi jalanan tidak terlalu akurat. Beda dengan taksi yang selalu berkeliling.
"Tapi kalau langsung taksi di bawah yang bergerak langsung, kita punya data itu. Jadi orang Jakarta kalau mau keluar, tinggal buka saja dia punya smartphone dan lain-lain langsung lihat mana jalan yang padat. Ini kan membuat orang cari alternatif jalan yang lain," papar Ahok.
Perusahaan taksi terkemuka, Blue Bird bersedia bekerja sama asal dengan syarat-syarat ini. "Kalau memang ada kerja sama dengan pihak ketiga apakah ini digunakan untuk komersial atau tidak? Kalau digunakan secara komersial, berarti kita berbicara B to B, kita bisa bicarakan dengan pihak ketiga," jelas Vice President Business Development Blue Bird Group, Noni Purnomo.
Hal itu dikatakan Noni ketika diminta tanggapan mengenai ide yang dilontarkan Ahok pada Senin (11/3/2013) di sela-sela acara peluncuran buku tentang Blue Bird berjudul 'Sang Burung Biru' yang ditulis Alberthiene Endah dan diskusi tentang 'Menyiasati Ganjil-Genap di DKI Jakarta' di toko buku Kinokuniya, Plasa Senayan lantai 5, Rabu (13/3/2013).
Pada saat ini, imbuhnya, pihaknya juga sedang mengembangkan sistem pemantau kemacetan. Sebagai perusahaan taksi yang terkemuka, armada Blue Bird adalah taksi terbanyak yang menggunakan GPS.
"Jadi kita memiliki data yang sudah banyak. Hanya yang harus diperjelas apakah ada kerjasama dengan pihak ketiga ataukah ada kita men-develope sistemnya sendiri," tutur Noni.
Sistem pemantau kemacetan dengan menggunakan taksi ber-GPS ini, imbuh Noni, sudah dibuktikan di seluruh dunia. Rute taksi yang selalu bergerak dan bisa jalan di mana saja memberikan data yang akurat.
Jadi dari Blue Bird merespons ya selama ada kejelasan skema kerja sama?
"Iya. Saya sebagai wakil ketua ITS (Intelligent Transport System) ada proyek membuat satu sistem di mana orang Jakarta lebih efisien ke mana-mana dan sudah digunakan Blue Bird. Kalau itu bisa di-share pada masyarakat, itu pasti akan kita share. Jadi kita akan mendukung programnya, hanya saja bentuk kerja samanya seperti apa itu yang kita bicarakan," tegas dia.
Halaman 2 dari 4










































