Kerabat Nasiran, Salman, mengatakan sejak lahir, Nasiran kurang berinteraksi. Ibunya juga bisu. Keduanya hidup di perkebunan di kawasan Ie Mirah, Blang Pidie, Aceh Barat Daya (Abdya).
"Dia (Nasiran) pernah kena step atau kejang demam saat masih anak-anak. Tapi karena tidak ada biaya, ia tidak dibawa ke rumah sakit," kata Salman di Banda Aceh, Selasa (12/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasiran dan ibunya saat ini berada di RS Zainal Abidin (RSZA) Banda Aceh. Ibu Nasiran terlihat takut saat ditanya dengan bahasa isyarat. Tangannya memperagakan senjata menembak, kemudian lari sambil menggendong Nasiran.
Tidak yang bertanggung jawab atas perawatan Nasiran dan ibunya. Pihak RSZA mengaku hanya bisa menghubungi perwakilan dari Abdya. "Tidak ada keluarga yang bertanggung jawab," kata dokter penanggung jawab pasien, dr Mars Nashrah.
Menurut Salman, ibu Nasiran memiliki 3 saudara. Sebelumnya, mereka tinggal di sebuah rumah dekat jalan raya di Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Abdya. Kemudian mereka hidup terpisah setelah kematian sang ayah, Hasan.
(try/try)










































