Tega nian kelakukan Sutrisno Abdi alias Cipeng terhadap ayahandanya, Rustawi Tomo Kabul (63). Mahasiswa asal Malang ini diam-diam menaruh bahan peledak di dalam koper pengusaha penggilingan padi yang hendak pergi umrah itu gara-gara sakit hati, terangkum dalam 3 pengakuan ini:
βCipeng mempersiapkan bondet dan barang berbahaya lainnya, beberapa hari sebelum sang ayah berangkat umrah. Menjelang hari H keberangkatan umrah, Cipeng menyelinap masuk ke kamar ayahnya lalu memasukan bondet tersebut ke dalam koper ayahnya.
Rustawi akhirnya ditangkap saat hendak pindah pesawat di Bandar Seri Begawan, Brunei. Ayah yang malang ini dituduh dengan pidana subversif karena membawa bendera mirip ISIS dan benda mirip bahan peledak yang diduga bondet. Ia rencananya diadili pada 11 Mei nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menindaklanjuti pengakuan Rustawi, tim gabungan Densus 88 Polri dan Satgas Anti Teror menangkap Cipeng di sebuah kampus di Malang, Jawa Timur, Minggu 10 Mei malam. Cipeng mengaku menyimpan bondet serta barang berbahaya lainnya itu le koper ayahnya karena tersulut sakit hati.
Berikut 3 pengakuan Cipeng:
1. Dibekuk di Kampus
|
|
Informasi yang diperoleh detikcom dari sumber di kepolisian mengungkapkan, Cipeng ditangkap pada Minggu (10/5/2015) malam di sebuah kampus di Malang, Jawa Timur.
Ia mengaku bertanggung jawab atas peletakan bondet di tas koper ayahnya yang akan pergi umroh yang kemudian diamankan otoritas Brunei Darussalam.
"Saat ini yang bersangkutan masih kita dalami apa maksud dan tujuannya menyimpan bondet di koper ayahnya itu," jelas seorang perwira di kepolisian yang tak mau disebutkan namanya Senin (11/5/2015).
Sebelumnya, Rustawi diamankan otoritas Brunei Darussalam karena di dalam kopernya kedapatan sejumlahβ petasan cabe dan banting (bondet), sejumlah peluru. Saat ditahan otoritas Brunei Darussalam, Rustawi mengaku jika dirinya tidak pernah meletakan barang-barang berbahaya tersebut di dalam koper.
Polri melalui Densuss 88 Polri dan Satgas Antii Teror kemudian melakukan pengusutan penangkapan Rustawi ini. Dari hasil pelacakan, Rustawi tidak pernah terjejak dalam catatan kriminal atau pun teroris.
Penyelidikan kemudian dikembangkan, sehingga akhirnya berhasil menangkap Cipeng yang tidak lain adalah anak Rustawi. Ia mengaku bertanggung jawaβb atas bondet yang disembunyikan dalam koper bapaknya itu.
2. Sakit Hati dan Tuding Ayah Pelit
|
|
"Dia sakit hati kepada orangtuanya karena sejak kecil disia-siakan sama orangtuanya dan mengatakan kalau ayahnya pelit sama dia," ujar sumber di kepolisian yang tak mau disebut namanya, Senin (11/5/2015).
βSaat mengetahui ayahnya hendak berangkat umroh, Cipeng mempersiapkan bondet dan barang berbahaya lainnya, beberapa hari sebelumnya. Menjelang hari H keberangkatan umroh, Cipeng diam-diam menyelinap masuk ke kamar ayahnya lalu memasukan bondet tersebut ke dalam koper ayahnya. Sang ayah pun ditangkap saat hendak pindah pesawat di Bandar Seri Begawan, Brunei. Hari ini sang ayah akan disidang.
βCipeng ditangkap tim gabungan Densus 88 Polri dan Satgas Anti Teror di sebuah kampus di Malang, Jawa Timur, Minggu (10/5) malam. Ia mengaku jika yang menyimpan bondet serta barang berbahaya lainnya itu adalah dirinya.
3. Targetkan Ayah Ditangkap di Surabaya
|
|
Cipeng yang sudah ditangkap Densus 88 mengaku sengaja menaruh benda itu di tas ayahnya. Dia sakit hati karena kerap tak dipenuhi permintaannya.
"Dia tahu ayahnya mau berangkat umroh dari kakaknya, sehingga muncul ide itu agar ayahnya nanti ditahan di Bandara Juanda sehingga nanti dikira ayahnya anggota ISIS," jelas perwira di kepolisian, Senin (11/5/2015).
Sang ayah pun gagal umroh. Sang ayah kini ditahan di Brunei dan akan menjalani sidang atas tudingan subversif.
Sebelumnya, PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Juanda membantah kecolongan terkait seorang calon jamaah umroh yang lolos membawa bahan peledak jenis bondet dan peluru.
"Saya sudah cek teman-teman di lapangan. Tidak ada bahan peledak dan waktu di x ray hanya ada peluru yang tidak ada isinya dan ujungnya sudah dimodifikasi," kata GM Bandara Internasional Juanda PT Angkasa Pura I Yanus Suprayogi, Kamis (7/5).
Yanus menegaskan, pemeriksaan terhadap barang bawaan calon penumpang sudah dilakukan dengan ketat.
"Kalau ada barang berbahaya (termasuk bahan peledak), saya yakin pasti tidak bisa lewat di tempat kami. Karena di tempat kami sudah sesuai standar," tegasnya.











































