Dari pantauan detikcom, pedagang sudah memasang lapak berupa palet kayu atau batu untuk membatasi lebar lapak. Tali rafia digunakan untuk mengukur lebar lapak yang rata-rata selebar 1 meter.
"Ini untuk jaga-jaga, lha kita belum tahu mau direlokasi ke mana. Kios saya habis ludes," kata pedagang buah, Ngatimah yang membuka lapak di seberang Pasar Yaik, Senin (11/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat hal itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu pedagang agar tidak berjualan karena berbahaya. Menurutnya masih ada titik api menyala dan mobil pemadam kebakaran banyak berlalu-lalang.
"Ini kalau tidak diberitahu pedagangnya, paling satu jam lagi sudah benar-benar jadi lapak. Berbahaya karena masih banyak mobil pemadam yang lewat sini, pemadaman belum selesai," kata Kusnandir kepada detikcom.
"Ini dinas pasar kemana? Kok bisa pedagang pasang kapling begini," imbuhnya.
Ia berharap agar pedagang bersabar menunggu hasil rapat Muspida di Kantor Wali Kota Semarang yang sedang berlangsung untuk menentukan lokasi relokasi. Untuk sementara usulan relokasi berada di dekat Masjid Agung Jawa Tengah.
"Jam 10.00 rapat di Balai Kota untuk menentukan lokasi relokasi," pungkasnya.
Sejumlah personel Satpol PP pun mendatangi pedagang yang mulai membuka lapak. Mereka mengimbau agar barang dagangan mereka kembali dikemasi dan menunggu hasil rapat.
"Bu, diberesi dulu menunggu hasil rapat. Jangan jualan dulu, berbahaya," kata seorang petugas Satpol PP.
Diketahui 18 mobil pemadam kebakaran masih disiagakan di Pasar Johar karena beberapa titik api masih menyala. Kepolisian dan TNI diperbantukan mengamankan lokasi kompleks pasar itu.
(alg/try)










































