2 Pekan Pasca Gempa Nepal, Kuil yang Utuh dan Rumah yang Runtuh

Laporan dari Nepal

2 Pekan Pasca Gempa Nepal, Kuil yang Utuh dan Rumah yang Runtuh

- detikNews
Minggu, 10 Mei 2015 17:07 WIB
2 Pekan Pasca Gempa Nepal, Kuil yang Utuh dan Rumah yang Runtuh
Kathmandu - Bencana gempa 7,9 SR yang dialami masyarakat Nepal pada 25 April lalu sudah berlalu. Perlahan tapi pasti, kehidupan masyarakat Nepal kembali beranjak normal.

Namun reruntuhan rumah masih mudah ditemukan di sudut-sudut kota Kathmandu, Nepal, Minggu (10/5/2015). Jalanan yang berhiaskan debu menerawang mengantarkan para pelancong yang mulai berdatangan ke sejumlah kuil.

Beberapa kuil, seperti Hanoman Dokha, masih menampakan luka berupa reruntuhan. Namun serpihan bangunan tua itu sudah rapi dan sebagian besar sudah dievakuasi oleh otoritas setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalanan di Ibu Kota negeri atap dunia itu lalu menghantarkan pada sebuah bukit yang menjulurkan stupa warna emas dari kejauhan. Ternyata stupa itu adalah kuil Swayambunath.

Stupa dengan simbol wajah Budha di pangkalnya itu menjadi bangunan tertinggi di kompleks kuil tersebut. Hal ini karena rumah-rumah warga yang berada di dalam kompleks sebagian rusak dan runtuh.

Warga pun membangun tenda sederhana dari terpal dan kayu di antara stupa dan rumah mereka. Sejumlah bantuan logistik didatangkan untuk meringankan penderitaan mereka, dan sejumlah polisi setempat bersama sukarelawan dari NGO merapikan kompleks kuil tersebut.

Sekali dua kali tampak beberapa biksu berdoa di stupa tersebut, ia pun tak masalah menerima wawancara pekerja media setempat. Menurut salah satu biksu, Aniel Sakya, tak semua kuil di Nepal runtuh akibat gempa.

"Tidak semua (rusak), sejumlah kuil selamat. Kebanyakan bangunan yang runtuh adalah rumah-rumah warga. Kuil bahkan jadi tempat pengungsian. Tentu ada beberapa yang runtuh tapi tidak fungsinya," kata Aniel terpisah.

Kathmandu masih dikelilingi oleh sejumlah titik tenda pengungsian, begitu pula dengan Bhaktapur hingga Patan dan sejumlah desa kecil lainnya di lereng Everest. Namun bantuan-bantuan yang sudah disalurkan sejumlah negara dan pemerintah setempat tampak membantu warga Nepal kembali bangkit.

Pusat wisata di Kathmandu, Thamel, mulai hidup kembali dengan toko-toko suvenir termasuk toko trekking yang kembali buka. Walau harganya agak dimahalkan dari biasa, hal itu tak membuat surut para pelancong dari mancanegara untuk menghabiskan uang mereka.

"Ini masih sedikit untuk musim liburan seperti sekarang. Sebelum gempa terjadi, jalanan di Thamel selalu sesak oleh turis, mobil, motor dan para pedagang. Tapi ini tampak lebih lengang walau turis mulai berdatangan," ujar seorang sekuriti hotel di Thamel, Barhami.

Sebagian penduduk di Thamel memprediksi wisata Nepal akan kembali normal dalam 2 hingga 3 tahun. Namun untuk turis yang ingin trekking diperkirakan oleh penduduk setempat akan memakan waktu sangat lama karena jalur pendakian telah hilang akibat longsoran salju.

"Pemerintah di sini cukup lamban, jadi bisa 3 tahun paling lama untuk menghidupkan kembali pariwisata di Kathmandu. Kalau pendakian, itu tak mungkin dibuka dalam 5 tahun ini, biasanya sangat lama lebih dari 7 tahun," ucap seorang pedagang suvenir bernama Ammar.

Tampaknya, harapan Nepal dalam segera bangkit lebih besar di kalangan turis daripada penduduk setempat. Seperti yang diuraikan oleh turis asal Kanada bernama Terry.

"Cara untuk membantu mereka, korban gempa ini, cuma melalui pariwisata. Berkunjunglah ke Nepal untuk membantu mereka. Karena industri terbesar di Nepal hanya pariwisata. Saya yakin semakin banyak turis akan mengembalikan keindahan negeri atap dunia ini," ucap Terry.

(vid/mok)


Berita Terkait