Dilema Media Sosial, dari Online Shop sampai Prostitusi Artis

Dilema Media Sosial, dari Online Shop sampai Prostitusi Artis

- detikNews
Minggu, 10 Mei 2015 16:15 WIB
Dilema Media Sosial, dari Online Shop sampai Prostitusi Artis
Foto ilustrasi (detikcom)
Jakarta - Sebagai ibu rumah tangga sekaligus artis dengan segudang kegiatan, Fifie Buntara tentu merasa terbantu dengan hadirnya media sosial dan kemajuan teknologi. Hadirnya sejumlah online shop melalui perangkat teknologi canggih sangat membantu perempuan berusia 36 tahun itu.

"Saya sangat terbantu, (Online Shop) bisa memudahkan saya belanja tanpa harus keluar rumah, banyak waktu efektif bersama anak. Saya kumpul dengan keluarga di rumah barang belanjaan datang," kata Fifie saat berbincang dengan detikcom, Minggu (10/5/2015).

Namun kini Fifie seperti menghadapi dilema. Kemajuan teknologi dan maraknya media sosial ternyata digunakan juga untuk hal-hal yang negatif. Salah satunya digunakan oleh para wanita penjual cinta untuk menjajakan diri. "Saya dan Ibu-ibu rumah tangga kesel banget deh. Online shop jangan digunakan untuk menjajakan diri lah," kata Fifie.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia pun meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika turun tangan. "Kalau ada yang manjajakan diri di media sosial diblok saja semua. Jangan hanya kalangan artis," kata Fifie.

Fenomena prostitusi online kembali marak akhir-akhir ini. Dalam cacatan detikcom, dalam kurun waktu bulan April hingga awal Mei ini setidaknya sudah ada tiga kasus prostitusi online di Jakarta yang terkuak. Modusnya hampir sama, yakni memasarkan jasa layanan seksual menggunakan media sosial seperti twitter dan forum sosial lain.

Yang pertama terkuak adalah kasus Dedeuh Alfisahrin (26) alias Tata alias Mpie. Kasus ini berawal dari ditemukannya Dedeuh di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa dan tak berbusana.

Belakangan diketahui Dedeuh merupakan korban pembunuhan. Tersangka pembunuhnya tak lain adalah pelanggan jasa Dedeuh. Dedeuh memang akhirnya diketahui sebagai PSK yang memasarkan jasanya lewat twitter dengan menggunakan akun @tataa_chubby.

Tak berselang lama, polisi kembali menguak bisnis prostitusi yang menggunakan media sosial sebagai sarana promosi. Tepatnya pada pada Kamis 23 April pukul 00.30 WIB aparat Unit II Vice Control (VC) Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap seorang pria yang akrab disapa Papi Mike di sebuah hotel di Jl HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakpus.

Papi Mike merupakan mucikari yang menawarkan jasa prostitusi kepada para pria hidung belang. Mike menggunakan fasilitas sosial media sebagai sarana untuk memasarkan jasanya. Di twitter, Papi Mike menggunakan akun bernama @Teman*** sebagai wadah promosi.

Ada juga kasus prostitusi online yang dilakukan di Tower J lantai 5 dan Tower H lantai 8 di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan pada Jumat (24/4) malam. Polisi menangkap pria bernama Faisal alias Ical yang merupakan tersangka prostitusi online ini.

Modus yang dipakai Faisal adalah dengan menawarkan para PSK yang dimilikinya melalui forum s**.com yang merupakan forum khusus dewasa. Melalui forum semp***.com, Faisal memasarkan jasa prostitusi.

Terakhir pada Jumat malam lalu penyidik dari Polres Jakarta Selatan mengungkap prostitusi onlie yang diduga melibatkan seorang artis dengan inisial AA. Dalam sekali kencan si AA memasang tarif yang begitu fantastis yakni Rp 80 hingga Rp 200 juta. Mucikari yang memasarkan AA menggunakan media pesan blackberry saat menawarkan jasanya kepada lelaki hidung belang.




(erd/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads