Melihat Kehidupan Parsiah Majudi Pasca Gempa Nepal

Laporan dari Nepal

Melihat Kehidupan Parsiah Majudi Pasca Gempa Nepal

- detikNews
Minggu, 10 Mei 2015 15:27 WIB
Melihat Kehidupan Parsiah Majudi Pasca Gempa Nepal
Tanahun - 5 Jam perjalanan darat dari Ibu Kota Nepal, Kathmandu, menuju Tanuhun, tempat tinggal salah satu warga negara Indonesia yang sempat dikabarkan hilang. Ia adalah Parsiah Majudi, wanita asal Cilacap yang telah menetap 4 tahun di Nepal.

Sepanjang perjalanan menuju Tanuhun, penampakan reruntuhan bangunan akibat gempa 7,9 SR pada 25 April lalu memantul di kaca mobil rombongan Kedutaan Besar Indonesia untuk Bangladesh merangkap Nepal.

Tenda-tenda pengungsian selalu ditemukan tak jauh dari reruntuhan. Hingga matahari mulai memanasi aspal, tim tiba di desa tempat Parsiah menetap. Sebuah bangunan dua lantai menggemakan logat ala suku Jawa Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nggak usah dibuka, nggak usah dibuka sepatunya," kata Parsiah kepada rombongan dari kamarnya, Tanahun, Nepal, Minggu (10/5/2015).

Sesosok wanita berparas Jawa dengan baju ungu keluar dari ruangan menuju pintu. Ia sumringah ketika sapaannya dijawab dengan bahasa Indonesia, dan ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya berbincang dengan sesama orang Nusantara.

Lalu, Parsiah diberi kesempatan untuk berbincang dengan keluarganya di Cilacap melalui sambungan telepon. Ibunya berada di balik telepon genggam, hingga ia menyampaikan rasa harunya.

"Mbok, assalamualaikum, kabar apik ning omah? Pemerintah Indonesia pada ke sini semua, temui aku. Rasanya aku mau nangis," ujar Parsiah kepada ibunya.

Parsiah mengaku ia tetap menjaga komunikasinya dengan keluarga di kampung halaman melalui Skype dan Facebook. Menurutnya, ia tak bisa dihubungi pasca gempa selama sepekan karena ponselnya rusak.

"Setiap hari Skype, ngobrol sama keluarga di kampung. Nomor HP saya rusak, lagi dibetulkan. Saya kabarin keluarga di Indonesia (pasca gempa) lewat Facebook. Saya bilang baik-baik saja di sini," ucap Parsiah sambil menggendong putrinya.

Ia mengisahkan, pada 25 April lalu, dirinya merasakan getaran yang dikiranya sebuah traktor tengah melewati jalan di depan rumahnya. Namun getaran itu langsung berubah menjadi guncangan hebat.

"Kok lama kelaman semuanya getar, saya sudah lari keluar. Sementara anak saya lagi tidur masih di dalam, saya lari balik lagi ke anak saya. Untung anak saya ngerti dia lari, saya keluarin," imbuh Parsiah.

Beruntung bagi istri dari warga negara Nepal ini, karena gempa tersebut tak membuat rumahnya runtuh, hanya kerusakan minor yang dialami rumahnya. Begitu pula dengan rumah-rumah tetangganya yang masih berdiri.

"Di bagian atas (retak sedikit), rumah baik-baik saja," tutup wanita yang suaminya bekerja di Dubai tersebut.



(vid/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads