Hingga Sabtu (9/5/2015), para tetangga masih diliput keheranan atas masalah itu. Apalagi Rustawi dan keluarganya dikenal keluarga baik-baik.
Menurut Bashori, Ketua RT setempat, bahwa Rustawi dikenal sebagai pengusaha selepan atau penggilingan padi, yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sehingga warga tidak pernah melihat sesuatu yang ganjil dari kegiatan Rustawi.
"Setahu saya ya pengusaha selepan, yang lokasinya gak jauh dari rumahnya,β ungkap Bashori.
Dia menambahkan, Rustawi juga mempunyai jamaah pengajian berpusat di Surabaya, karena mereka pernah dua kali menggelar pengajian di rumah Rustawi. Kegiatan itu diduga membuat Rustawi sedikit berbeda dari biasanya.
Bashori mengungkapkan, pascakabar penangkapan Rustawi di Brunei, dirinya sempat didatangi sejumlah orang. Menanyakan berbagai informasi tentang Rustawi.
"Sejak ada berita itu, banyak yang datang ke saya, nanya tentang Pak Rustawi," ungkapnya.
Kabar terakhir diterima Bashori adalah banyak polisi mendatangi rumah Rustawi, mereka mencari Cipeng anak angkat Rustawi yang diduga sebagai pemilik bahan peledak.
"Katanya Pak Rustawi mengaku begitu. Karena itu polisi tengah mencari anaknya," ujar Bashori.
Meski begitu, warga juga tidak yakin anak ketiga Rustawi memiliki bahan peledak. Selama ini, Cipeng dikenal baik, pandai, dan sopan. Sementara kabar kedatangan kepolisian Brunei Darussalam ke rumah Rustawi mengundang perhatian media.
Namun ditunggu mulai Jumat (8/5) sore hingga saat ini aparat kepolisian yang diisukan tak juga datang. Kapolres Malang AKBP Aris Haryanto mengaku, tidak mengetahui rencana kehadiran kepolisian Brunei Darussalam bersama tim Mabes Polri tersebut.
"Saya tidak monitor, Polda juga belum menginformasikan ke jajaran. Kalaupun ada, pastinya polda dan mabes yang menindaklanjuti," terang Aris dikonfirmasi terpisah.
Dia menambahkan, bahwa Polres Malang tidak terlibat langsung dalam penanganan perkara ini. Semuanya langsung ditangani Mabes Polri dan Polda Jatim.
(bdh/rul)











































