Williams tak lain adalah pendiri Missouri School of Journalism, sekolah jurnalistik pertama di AS dan paling tua di dunia itu. Akhir abad ke-19, editor di harian Columbia Missouri Herald dan seorang kurator universitas tersebut berhasil meyakinkan para kurator dan senat Missouri tentang perlunya jurusan jurnalistik.
Sebelumnya, pendirian jurusan jurnalistik masih banyak ditentang di universitas manapun di AS. Wartawan yang sukses dinilai terbentuk dari bakat dan pengalaman panjang, bukan dari ruangan-ruangan kuliah. Senat Missouri emoh menggulirkan dana untuk penyusunan kurikulum jurnalistik. Universitas juga diarang menganugerahkan gelar sarjana di bidang media massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Williams tidak hanya mengisi kampus barunya dengan kegiatan belajar, layaknya sebuah universitas. Suatu hari, ia mengumpulkan para mahasiswa dan dosen. Williams mengumumkan rencana yang mengejutkan. J-School akan menerbitkan sebuah surat kabar komersial untuk membiayai operasional kampus.
Yang lebih mengagetkan lagi, awak redaksi yang bakal dipekerjaan untuk koran baru itu adalah para mahasiswa dan dosen J-School sendiri. “Dia bilang kamu (mahasiswa) menjadi jurnalis, dan kalian (dosen) menjadi editornya,” cerita Fritz Cropp, Associate Dean for Global Programs J-School, di depan delegasi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI yang mengunjungi kampus itu pekan lalu.
Selain jurnalis dan editor, ia juga merekrut orang untuk mencari iklan. Tak berapa lama, terbitlah The Columbia Missourian, salah satu dari dua koran terbesar di Missouri. Namun, William sesungguhnya mempunyai tujuan yang lebih penting saat menggagas koran lokal tersebut. Ia ingin mahasiswanya belajar jurnalistik sekaligus menerapkannya di lapangan. Jadi, mahasiswa yang menuntut ilmu di J-Scool langsung merasakan kerja sebagai wartawan.
Sistem belajar ala Williams itu dikenal dengan istilah “Missouri Methods”. Metode Missouri telah menjadi rahasia sukses J-School sebagai kampus jurnalistik paling top di AS selama bertahun-tahun. Saat ini, J-School bekerjasama dengan sejumlah perusahaan media massa di Missouri untuk mendukung kuliah para mahasiswa. Di antaranya adalah Radio KBIA-FM, KOMU-TV (televisi Missouri jaringan NBC dan CNN), VOX Magazine, dan tentu saja The Columbia Missourian.
Seorang mahasiswa asal Indonesia, Anisa Budiman menceritakan pengalamannya belajar di J-School. Nisa, sapaan akrabnya, mengambil program master untuk penyiaran sejak Januari tahun ini. Sebelumnya, ia adalah lulusan S1 Ilmu Komunikasi di Maryland. Saat ikut kelas penyiaran radio, ia juga bekerja untuk stasiun radio KBIA-FM. Ia turun ke lapangan melakukan peliputan, yang hasilnya disiarkan ke publik. “Kita harus menghasilkan enam story setiap minggunya di radio,” kata Nisa.
Saat ini, Nisa sedang mengambil kelas broadcast satu untuk penyiaran televisi. Ia sudah membuat dua berita untuk KOMU-TV, yaitu tentang proyek perbaikan jalan dan MoU antara sekolah dan pengadilan tentang cara mengadili siswa yang berbuat pelanggaran. Dalam proses pembuatannya, Nisa harus meliput, mengambil gambar, stand up, dan mengedit sendiri beritanya. “Aku belajar beberapa software yang mereka gunakan untuk editing,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa yang ‘nyambi’ di media massa tidak hanya untuk kepentingan kuliah saja. Para mahasiswa bisa bekerja secara paruh waktu di media-media yang bekerja sama dengan J-School dan mendapatkan gaji. Namun, banyak pula mahasiswa yang aktif terlibat dalam keredaksian media massa hanya untuk mempertajam skill.
Selain menjadi tempat menimba ilmu jurnalistik, J-School juga menjad ‘rumah’ bagi para wartawan di seluruh dunia untuk membahas isu-isu tentang jurnalisme. Fritz mengatakan, setidaknya ada 400 asosiasi jurnalis investigatif yang menjalin kerjasama dengan J-School. Salah satunya adalah organisasi Investigative Reporters and Editors (IRE), yang sering mengadakan pelatihan-pelatihan untuk jurnalistik investigatif yang berkualitas.
Metode perkuliahannya menarik, lalu bagaimana dengan suasana kampus J-School dan Universitas Missouri pada umumnya? Bagaimana pula dengan fasilitas-fasilitas penunjangnya? J-School mempunyai tujuh gedung utama. Selain Walter Williams, gedung lainnya adalah Neff, Neff Annex, Gannett, Lee Hills Halls, the Donald W. Reynolds Journalism Institute dan KOMU-TV yang berada di luar kota. Gedung-gedung itu memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.
Pada kesempatan siang hari itu, Rabu 29 April 2015, Fritz mengajak rombongan dari Kominfo untuk berkeliling singkat ke sebagian area kampus J-School dan Universitas Missouri. Kebetulan, cuaca di AS sedang memasuki musim panas. Sinar matahari membuat udara tidak terlalu terasa dingin. Fritz memandu rombongan menikmati suasana kampus yang rindang dan nyaman itu sembari menunjukkan bangunan-bangunan utama kampus.
Fritz menunjukkan perpustakaan utama Universitas Missouri yang bernama Ellis Library. Perpustakaan itu terletak antara Memorial Union dan Jesse Hall. Memorial Union adalah sebuah tower berarsitektur klasik yang dibangun untuk menghormati 117 civitas akademika Universitas Missouri yang hilang saat membantu AS dalam Perang Dunia I. Tower ini dilengkapi dengan ruang pertemuan, pusat teknologi, dan fasilitas lainnya.
Kemudian, Fritz mengajak untuk mengunjungi gedung pusat kegiatan mahasiswa. Di gedung yang lebih mirip mall itu terdapat aneka tempat makan untuk mahasiswa, toko buku, serta pusat penjualan souvenir Univeritas Missouri. Terakhir, Fritz memasukkan rombongan ke dalam bus untuk mengunjungi stasiun televisi KOMU-TV yang berjarak kurang lebih 30 menit dari kampus.
(irw/fjp)











































