Bedanya Penanganan Bencana Antara Nepal dan Indonesia

Laporan dari Kathmandu

Bedanya Penanganan Bencana Antara Nepal dan Indonesia

- detikNews
Jumat, 08 Mei 2015 13:20 WIB
Bedanya Penanganan Bencana Antara Nepal dan Indonesia
Foto: Gudang bantuan gempa Nepal (istimewa)
Kathmandu -

Indonesia mengirimkan bantuan tak hanya medis tapi juga logistik hingga puluhan ton. Namun saat tiba di Bandara Tribuvan, Nepal, bantuan itu diambil alih militer setempat bersama ratusan ton bantuan dari negara lain.

Bantuan logistik berupa obat-obatan, makanan dan air bersih itu menumpuk di gudang yang berada di Bandara Tribhuvan Nepal. Banyaknya bantuan membuat bangunan gudang penuh sehingga belasan tenda untuk gudang tambahan didirikan.

"Kebetulan bantuan Indonesia itu melalui militer Nepal, karena kalau melalui Custom itu lama," kata Anggota Penghubung Indonesia-Nepal, Rahmawati Husein di Kathmandu, Nepal, Jumat (8/5/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmawati sebagai petugas penghubung antara Tim Indonesia Peduli Nepal dengan pihak militer dan pemerintah Nepal kerap bolak balik gudang untuk mengurus administrasi. Pada tanggal 5 Mei lalu, ia kembali ke gudang dan menyaksikan ribuan kardus bantuan logistik dari sejumlah negara yang menumpuk.

"Saya tidak tahu itu barang lama atau baru, tapi jumlah barangnya banyak. Sementara di luar, banyak warga Nepal yang mengeluh bantuan lambat. Apakah itu didistribusikannya harian atau mingguan belum tahu, tapi yang jelas barangnya banyak sekali, termasuk bantuan dari Indonesia," ujar Rahma.

Tim Indonesia Peduli Nepal pun menanyakan distribusi bantuan Indonesia ke masyarakat Nepal korban gempa. Namun ternyata sulit mendapatkan jawaban tersebut, hal ini karena tim kemanusiaan dari Indonesia adalah tim yang terdiri dari BNPB, TNI dan sipil.

Sementara di Nepal, militer, sipil dan pemerintah dipisahkan. Sehingga tim dari Indonesia harus berkoordinasi dengan pemerintah Nepal dan militer Nepal secara terpisah.

"Kita jadi harus bolak balik ke militer dan pemerintah, karena kita dianggap militer. Padahal kita kan ada tim kesehatan di bawah BNPB, bukan pasukan khusus. Ini yang membuat mereka sulit paham, kok bisa militer bergabung dengan sipil," ucap Rahma.

"Sehingga saya harus menjelaskan berulang kali bahwa Indonesia berbeda dengan tim dari negara lain. Karena kita pemerintah, militer dan NGO jadi satu. Itu tidak ada di mereka," tambahnya.

Melihat birokrasi dan kemampuan tanggap darurat di Nepal, Rahma menilai Indonesia lebih baik sejak gempa dan tsunami di Aceh 2006 lalu. Indonesia memiliki badan yang menjalankan sistem penanggulangan bencana, sehingga operasi kemanusiaan pasca bencana alam selalu melalui satu pintu sehingga lebih cepat.

"Indonesia cukup baik dengan keterlibatan berbagai pihak. Jadi distribusi logistik tidak masalah karena cepat penyalurannya, tidak harus menunggu lama," imbuh Rahma.

"Yang jadi persoalan di Indonesia itu remote areas, karena Indonesia punya banyak remote areas. Ini yang perlu dipikirkan, kalau perlu ada sekolah khusus humanitarian logistics," tutup Rahma.

(vid/iqb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads