Ya Ampun! Kopaja AC Juga Pernah Diskriminatif Sama Orang Gemuk

Aksi Ugal-ugalan Kopaja AC

Ya Ampun! Kopaja AC Juga Pernah Diskriminatif Sama Orang Gemuk

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jumat, 08 Mei 2015 13:06 WIB
Ya Ampun! Kopaja AC Juga Pernah Diskriminatif Sama Orang Gemuk
(Foto: dok detikcom/Ramses)
Jakarta - Selain kerap ugal-ugalan, perilaku sopir dan kenek Kopaja AC, yang tarifnya lebih mahal dari Kopaja reguler juga pernah melakukan tindakan diskriminatif. Salah satunya, emoh menaikkan penumpang gemuk atau berbadan besar.

"Diskriminasi, kenek sering kali tidak mau mengambil penumpang yang berbadan besar, gemuk atau membawa tas yang agak besar, mereka lebih suka mengambil penumpang perempuan yang berbadan kecil atau kurus," demikian keluh pembaca detikcom, Hazil.

Dia mendapati perlakukan itu dilakukan sopir Kopaja AC 602 rute Ragunan-Monas. Selain perlakuan diskriminatif itu, ada sederet keluhan lainnya yang disampaikan Hazil dalam email lengkapnya seperti berikut:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Sopir dan kenek Kopaja AC tidak 'well educated', kadang mereka seenaknya maki-maki dan berbahasa kasar kepada pengguna jalan lainnya.
2. Interior bau rokok, sopir dan kenek suka merokok di dalam bus saat 'ngetem'.
3. Diskriminasi, kenek sering kali tidak mau mengambil penumpang yang berbadan besar, gemuk atau membawa tas yang agak besar, mereka lebih suka mengambil penumpang perempuan yang berbadan kecil atau kurus.
4. Beberapa mobil dipasang kaca film yang sangat gelap.
5. Kursi penumpang sengaja dicopot agar penumpang berdiri lebih banyak.

Sederet keluhan juga disampaikan Dino Bambang, karyawan yang bekerja di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

"Pada awal beroperasinya bus ini, saya sering naik. Saat itu kondisi tempat duduk hampir full memenuhi ruangan bus dan tertata rapi, AC masih dingin, masih menggunakan karcis, sopir dan kenek menggunakan seragam dan tidak banyak penumpang yang berdiri karena dibatasi. Sehingga kenyamanan sangat terjaga," tulis Dino dalam emailnya.

Namun karena tempat kerjanya pindah, sudah 3 tahun Dino tidak menggunakan jasa bus ini lagi kecuali pas kebetulan ada urusan di rute tersebut.

"Alangkah kagetnya begitu naik bus ini," tutur Dino, dalam emailnya menjelaskan sederet perubahan yang terjadi seperti berikut:

1. Tempat duduk berkurang, bagian tengah dikosongi.
2. AC tidak dingin, pintu depan-belakang-tengah lebih sering dibuka
3. Sering ngetem di halte busway dan kenek teriak-teriak panggil penumpang (kayak angkot)
4. Sopir dan kenek identitasnya sudah tidak jelas, pakaian bebas seadanya dan sering bicara keras (kaya metro mini/kopaja reguler)
5. Tidak ada karcis
6. Menaik turunkan penumpang di sembarang tempat (walau dalam jalur busway) - sangat berbahaya karena penumpang masih harus menyeberang tanpa melewati JPO.

"Mohon ditertibkan dari pihak yang berwenang, karena indikasinya sudah sistem kebut-kebutan kejar setoran, bukan pelayanan penumpang lagi," tandas Dino.

(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads