Menteri Siti Ajak Pejabat dan Seluruh Masyarakat 'Bebaskan' Satwa Langka

#SaveSiJambulKuning

Menteri Siti Ajak Pejabat dan Seluruh Masyarakat 'Bebaskan' Satwa Langka

Ferdinan - detikNews
Jumat, 08 Mei 2015 13:03 WIB
Menteri Siti Ajak Pejabat dan Seluruh Masyarakat Bebaskan Satwa Langka
foto: Suryanto/Anadolu Agency/Getty Images
Jakarta -

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengapresiasi gerakan masyarakat menyelamatkan satwa langka termasuk #SaveSiJambulKuning. Imbauan untuk melepasliarkan satwa langka yang jadi peliharaan di rumah, juga ditujukan kepada para pejabat.

"Saya kira kita itu langkah bagus dan saya mengimbau untuk kita mulai masyarakat secara keseluruhan," kata Menteri Siti berbicara soal gerakan #SaveSiJambulKuning usai mengikuti penandatanganan MoU di Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Jl Kalibata, Jaksel, Jumat (8/5/2015).

Pemberitaan mengenai penyelundupan 21 ekor kakatua kecil jambul kuning dalam botol air mineral yang terungkap di Surabaya punya efek positif bagi kesadaran masyarakat akan pentingnya keberlangsungan satwa langka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dukungan masyarakat cukup besar. Langkah-langkah save jambul kuning saya dengar istilah itu dari masyarakat, saya sangat berterimakasih ada langkah-langkah itu," sambungnya.

Menurut dia, aksi penyelamatan ekosistem termasuk satwa yang dilindungi harus dimulai dari pembenahan lembaga juga aturan teknis terkait. " Ngeliatin satwa kandangnya harus jelas, kesehatan, standarnya. Memang kenapa dia penting karena dia bagian sistem penopang kehidupan," tuturnya

Kakatua kecil jambul kuning telah dinyatakan kritis oleh lembaga konservasi dunia (IUCN) sejak tahun 2000. Status kritis ini menobatkan kakatua kecil jambul kuning menjadi salah satu dari 18 jenis burung di Indonesia dengan status keterancaman tertinggi.

Catatan terakhir, jumlah kakatua kuning jambul kuning di Indonesia hanya sekitar 7.000 ekor. Perburuan besar-besaran terhadap burung tersebut membuatnya kini semakin langka bahkan cenderung mendekati kepunahan.

Khusus di Kepulauan Masalembu, Sumenep, Jawa Timur, hanya tersisa 20 ekor saja.

(fdn/mad)


Berita Terkait