Tarif Kopaja AC kini adalah Rp 6 ribu, lebih mahal Rp 2 ribu dari Kopaja reguler. Namun, sopir Kopaja AC yang ugal-ugalan tak sebanding dengan tarif lebih mahal, kecuali plus AC saja.
"Memang benar adanya yang sering juga saya alami pada saat saya naik Kopaja AC 20 (Lebak Bulus-Senen), sopir suka ngebut dan ugal-ugalan. Saya ini penumpang yang butuh keamanan yang bisa membuat saya aman di dalam bus dan selamat sampai tujuan. Saya naik juga bayar bukan gratis. Kalau kendaraan umum tidak bisa membuat saya dan penumpang lain aman untuk apa di perbanyak kendaraan umum?" gugat pembaca detikcom Ratih Apriliana dalam emailnya, Jumat (8/5/2015).
Pembaca detikcom lain, Umam menambahkan, tarif Kopaja AC yang lebih mahal menjadi tak ada bedanya dengan Kopaja reguler.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecemasan serupa juga disampaikan Rio Nurhasdy. Rio kerap naik Kopaja AC 602 (Monas-Ragunan) untuk pulang-pergi ke kantornya di kawasan Ragunan.
"Pengalaman saya, sopir yang ugal-ugalan ada di jam-jam pulang kantor, sore hingga malam pukul 20.00 WIB. Rata-rata sopir yang ugal-ugalan itu masih dibawah umur, namun mengenakan baju hijau ala sopir Kopaja," tutur Rio.
Rio dan penumpang lain merasa cemas karena sopir yang ugal-ugalan malah menganggap aksi mereka adalah kesenangan, tak peduli dengan pengguna jalan lain.
"Bahkan pernah Kopaja yang saya tumpangi balap-balapan dengan Kopaja lain dan tertawa senang, bahkan hampir menabrak motor di depan.
Selama ini saya ingin melaporkan hal tersebut, karena telah lama membuat keresahan pekerja yang naik dari Ragunan, namun saya bingung ingin mengadu ke siapa," curhat Rio.
Sedangkan Frans Khuan, penumpang Kopaja AC 602 rute Ragunan-Monas pernah mengomeli sopir karena kebut-kebutan dengan sesamanya.
"Saya sempat omelin sopirnya karena pada saat saya menaiki bus Kopaja tersebut hampir menabrak dan kebut-kebutan dengan sesama Kopaja AC yang lain. Sungguh sangat ironi karena para sopir tersebut tidak memikirkan keselamatan penumpangnya," tulis Frans.
Sudah bukan rahasia lagi, sopir bus umum kebut-kebutan karena sistem setoran. Ketika diluncurkan pertama kali dulu, Kopaja AC menerapkan sistem gaji. Tapi apa lacur, kru Kopaja AC kerjanya santai-santai alias enggan mencari penumpang. (nwk/nrl)











































