"Jambul kuning burung khas Indonesia yang sangat indah. Sudah jadi kewajiban kita menjaganya," kata Meutya saat dihubungi, Jumat (8/5/2015).
Meutya dan suami merupakan pecinta burung. Dia punya banyak kenalan para pecinta burung di Indonesia, beberapa di antaranya memiliki izin mengembangkan burung kakatua.
"Ada banyak yang saya tahu secara informal," ujar politikus Golkar ini soal kenalannya.
Meutya prihatin dengan nasib si jambul kuning yang makin hari populasinya makin sedikit karena penyelundupan. Apalagi penyelundupan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang menyiksa.
"Kakatua itu burung yang mudah disukainya karena sifatnya yang khas, lucu, riang dan mahir. Saya prihatin sekali mengetahui penyelundupan dengan menggunakan botol air mineral yang menyiksa burung," ujar Meutya yang sedang menjalankan kewajiban reses DPR di Medan ini.
Dia meminta pemerintah lebih proaktif dan merangkul komunitas pecinta hewan untuk mencegah penyelundupan flora langka di Indonesia makin meluas. Merangkul komunitas pecinta hewan, khususnya burung, juga bisa menjaga kelestarian hewan langka.
"Kakatua si jambul kuning ini malah diternak di luar negeri, di Thailand, Filipina. Kenapa nggak orang kita aja. Lebih baik pemerintah merangkul para pecinta burung agar kakatua lebih banyak," ujarnya.
#SaveSiJambulKuning adalah gerakan menyadarkan masyarakat agar mengembalikan satwa langka yang dipelihara di rumah ke alam liar. Sudah saatnya kita tidak bisa berpangku tangan saja melihat populasi mereka yang terjun bebas hingga mendekati titik punah.
Bagi Anda yang sudah mengembalikan hewan langka tersebut atau berniat mengembalikannya, silakan mengirim foto hewan ke pasangmata.com atau redaksi@detik.com. Bila di lingkungan Anda ada yang memelihara kakatua jambul kuning, silakan juga laporkan ke BKSDA atau kepolisian terdekat dan pasangmata.com. Jangan lupa sertakan kontak Anda.
(tor/mad)











































