Ini Cara Kerja Persinyalan Canggih yang Buat MRT Bisa Melaju Tanpa Masinis

Ini Cara Kerja Persinyalan Canggih yang Buat MRT Bisa Melaju Tanpa Masinis

- detikNews
Jumat, 08 Mei 2015 11:05 WIB
Ini Cara Kerja Persinyalan Canggih yang Buat MRT Bisa Melaju Tanpa Masinis
Jakarta - Kereta MRT akan mengadopsi sistem persinyalan baru yang membuat angkutan masal ini bisa jalan tanpa masinis. Sistem Persinyalan CBTC (Communication Based Train Control) ini juga bisa membuat perjalanan MRT lebih efisien. Lalu bagimana cara kerja persinyalan CBTC ini?

Dokumen Regional Plan Association soal subway New York pada Mei 2014 lalu menyatakan ada beberapa komponen yang harus dipasang di rel, kereta dan juga di sisi rel agar sistem CBTC ini bisa bekerja. Pada kereta dipasangi alat pengukur kecepatan dan posisi kereta. Pada kereta MRT ini juga dipasang alat untuk menerima dan memancarkan informasi terkait posisi kereta ini ke alat yang dipasang di pinggir rel MRT (wayside).

Kereta ini akan memancarkan informasi soal lokasi, kecepatan dan juga informasi lainnya ke alat yang dipasang di pinggir perlintasan kereta. Pada kereta ini juga dipasangi onboard computer yang berfungsi sebagai 'otak' untuk menginterpretasikan informasi-informasi yang didapat dari alat yang ada di pinggir rel kereta. Alat ini dapat menentukan berapa cepat kereta harus melaju.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada rel kereta MRT akan dipasangi transponder dengan jarak setiap 500 feed (152,4 meter). Transponder ini berfungsi seperti penanda untuk menentukan dengan pasti lokasi kereta. Alat ini akan bereaksi setiap ada kereta yang melintas atau berhenti di atasnya.

Di samping rel dipasangi alat yang disebut sebagai wayside. Alat ini dipasang sejauh 2.000 feed (609,6 meter). Alat terpisah-pisah di pinggir rel ini akan berkomunikasi dengan menggunakan optik fiber. Alat ini akan mencatat posisi kereta dan menghubungkannya dengan pusat kendali kereta.

Dengan alat ini pusat pengendali bisa mengetahui dengan pasti kereta ada di mana dan kereta juga bisa melihat posisi-posisi kereta lainnya di perlintasan tersebut. Alat lain yang harus dipasang adalah apa yang disebut sebagai zone controllers. Alat ini akan memonitor kereta-kereta yang ada di seluruh rute yang ada.

Dengan menggunakan sistem ini kereta dapat berjalan tanpa masisis. Tugas masinis nantinya hanya untuk membuka dan menutup pintu dan juga saat kondisi darurat. Sistem baru ini sudah diterapkan di berbagai negara seperti di Jepang, Australia dan Eropa.

"Kalau kereta MRT, yang mengatur kecepatan dan pengereman dari pusat kendali. Tugas masinis hanya untuk buka atau tutup pintu dan saat kondisi darurat," kata Direktur Operasional MRT Jakarta Albert Tara di sela acara penandatanganan kontrak rolling stock MRT Jakarta di Balai Kota, Jakarta, Selasa (3/3/2015).

(nal/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads