Gejolak tersebut mulai dirasakan sejak September 2014 lalu. Pemerintah RI melalui KBRI Yaman telah mengimbau para WNI yang berada di sana untuk kembali ke Indonesia. Namun kala itu imbauan belum banyak diindahkan oleh WNI.
Baru pada Bulan Februari 2015 saat gejolak di Yaman semakin memanas, WNI mulai mengikuti imbauan pemerintah dan dievakuasi ke Indonesia secara berangsur-angsur. Ketua Proses Percepatan Evakuasi WNI di Yaman, Sapto Anggoro berbagi pengalamannya kepada wartawan saat hendak memasuki Yaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami bersikukuh untuk tetap membawa rompi. Namun akhirnya dengan proses tarik ulur yang cukup lama, rompi di sita," kata Sapto di Kemlu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2015).
Tim kemudian dapat masuk ke Yaman. Namun tak sampai di situ. Di tengah jalan, tiba-tiba salah satu milisi Houthi yang berada di bus meminta mereka untuk berhenti untuk beristirahat. Sapto menolak ajakan tersebut. Ia khawatir akan terjadi hal-hal buruk jika berhenti di tengah jalan.
"Kita dihentikan selama 30 menit. Mereka meminta turun dan masuk ke hotel karena kami dianggap tamu. Mereka bilang, 'Ayo turun, kami tidak akan sandera kamu. Ayo turun, kalian butuh istirahat'," ujar Sapto.
Milisi itu terus-terusan merayunya hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ajakan tersebut. Di tengah suasana yang mendebarkan itu, ia sempatkan untuk memberi kabar pihak Kemlu atas apa yang dialaminya melalui SMS.
"Perasaan saya tidak enak," katanya.
Di dalam hotel, tim yang berjumlah 12 orang itu ditempatkan dalam kamar berukuran 3x3 meter. Benar saja, mereka ditanyai soal keperluannya ke Yaman dengan membawa rompi anti peluru. Milisi itu meminta agar semua peralatan ditinggalkan jika hendak memasuki Yaman.
Perundingan berlangsung cukup alot. Hingga akhirnya salah seorang pimpinan milisi menghadapi mereka dan secara tegas meminta keluar dari Yaman atau masuk namun seluruh perlengkapan harus ditinggal.
"Karena misi kami begitu besar, akhirnya kami memilih meninggalkan barang-barang, termasuk obat-obatan. Jadi kami disekap selama hampir 2 jam," ujarnya.
Sehingga perjalanan yang sedianya dapat ditempuh dalam waktu 4-5 jam, harus mereka tempuh selama 8 jam. Tiba di Hudaidah, tim berkoordinasi menangani WNI yang terjebak di Ibukota Yaman, Aden. Selama 4 hari, tim menjajaki WNI di kota Sanaa untuk dievakuasi.
"Ada 1 kali percobaan mengangkut dengan kapal India ternyata hasilnya tidak maksimal. Di Aden terjadi pertempuran, sehingga hanya 17 WNI yang terangkut," katanya.
Akhirnya tim bersama 56 WNI dapat memasuki Sanaa pada tanggal 18 April. Lalu tanggal 19 April bertemu dengan tim lain dari Kemlu. Kemudian pada tanggal 20 April, KBRI Yaman menjadi korban serangan bom dari Arab. Serangan tersebut sedianya ditujukan untuk menghancurkan gudang amunisi milik milisi Houthi yang letaknya tak jauh dari KBRI.
Sapto menjelaskan, pada tanggal 20 April itu, serangan di Yaman memang cukup gencar dan terasa begitu kuat dari KBRI. Namun ia tak menyangka KBRI juga akan menjadi korban.
"Pukul 09.00 saya sempat ke luar dari KBRI, melihat situasi, lalu masuk lagi. Kemudian pukul 10.45 WIB terjadi peristiwa tersebut (KBRI menjadi korban serangan)," ujar Sapto.
Sapto yang kala itu bersama 16 WNI lain, di mana 5 di antaranya adalah TKI. Ia menderita luka di tangan dan kaki, namun tidak terlalu parah. Justru para TKI yang mengalami luka cukup serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara gedung KBRI mengalami kerusakan sekitar 80-90%.
"Kami berusaha keluar dengan mobil yang ada, karena mobil di sana rusak semua. Kami gunakan 4 mobil untuk mengangkut 17 orang ke wisma kedubes," ujarnya.
Di sana mereka masih merasa belum aman. Kemudian keesokan harinya atas saran dari Kemlu, mereka menuju ke kota Salalah yang terletak di perbatasan Oman. Hingga saat ini tim dari KBRI Yaman masih berada di kota tersebut. Mereka terus melakukan pendataan dan meminta WNI yang berada di Yaman untuk keluar dari negara itu.
"Kami menanti semua WNI yang mau keluar dari Yaman di Salalah. Dari sana kami akan bantu proses pemulangannya," tutupnya.
(kff/mad)











































