Ridwan merupakan Wali Kota Bandung Jawa Barat , dan Risma merupakan Wali Kota Surabaya Jawa Timur. Dari sisi elektabilitas tokoh-tokoh tersebut, yang lebih mengancam Ahok?
"Ridwan iya (mengancam), tapi Risma tidak," kata CEO Cyrus Network Hasan Nasbi dalam paparan survei yang bertajuk 'Menakar Peluang Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini Memimpin DKI Jakarta', di Resto D’Consulate, Jl. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara Ridwan, dari gaya komunikasinya saja sudah menunjukkan minat ke Jakarta. Tapi apapun nanti, yang akan dipilih oleh publik Jakarta adalah orang yang bagus," kata Hasan.
Di mata Hasbi, Risma tak mencitrakan diri sebagai tokoh nasional. Namun Ridwan menurutnya sudah punya 'bahasa tubuh' yang mencitrakan diri sebagai tokoh nasional. Berbagai 'gimmick' dinilainya telah dimunculkan pihak Ridwan Kamil. Bagaimana bisa muncul penilaian seperti itu?
"Kita lihat, misal dari sisi angle foto, semua angle foto Ridwan Kamil di Instagram itu kuat. Itu pasti terkonsep," terka Hasan.
Ada pula cerita-cerita yang menurut Hasan sulit terkonfirmasi, yang juga dinilainya sebagai "gimmick" Ridwan atau paling tidak tim Ridwan. Misalnya kisah seorang turis Jerman yang salah sangka bahwa Ridwan itu Presiden Indonesia, padahal pria yang biasa disapa Kang Emil itu adalah Walikota Bandung.
"Meskipun bahasa verbal Ridwan belum terus terang, namun publik setidaknya sudah melihat bahwa 'entry point' Ridwan ini sudah natural. Dan Risma nggak melakukan yang begituan," kata Hasan.
Namun salah satu narasumber dalam acara ini, yakni pengamat politik dari CSIS Phillips J Vermonte, tak setuju dengan Hasan. Phillips menilai Risma bahkan lebih berpotensi menjadi kompetitor berat Ahok bila dibanding Ridwan Kamil.
"Kalau menurut saya, Ahok seharusnya lebih khawatir dengan Risma. Dukungan partai akan solid dicalonkan PDIP. Kemudian dia punya track record dan hasil pekerjaan yang bisa dibandingkan," kata Phillips.
Soal 'bahasa tubuh', Risma dinilai Phillips juga sudah menunjukkan bahwa dia ingin memimpin Jakarta. Dia mencontohkan saat Risma pernah mengkritik masalah perkotaan di Jakarta dalam forum publik.
"Bu Risma juga punya bahasa tubuh. Bu Risma pernah bilang, 'Saya dari Surabaya kepagian sampai Jakarta. Saya keliling-keliling Jakarta dulu. Terus saya pikir ini kota nggak ada Gubernurnya karena sampah di mana-mana. Pernyataan itu tidak mungkin tidak direncanakan," tilik Phillips.
Risma juga dinilai Phillips telah berhasil menjalankan konsep Smart City di Surabaya. Sistem e-government juga sudah berjalan di Ibu Kota Jawa Timur itu.
(dnu/van)











































