Puluhan WN Tiongkok itu hingga pagi ini masih diamankan di rumah mewah yang digerebek polisi. Mereka diduga melakukan penipuan secara online. Untuk mendalami kasus ini, polisi menunggu kehadiran penerjemah dan pihak imigrasi.
"Pagi ini orang dari imigrasi, dan kedutaan akan datang. Kita tunggu," ujar Herry di lokasi, Kamis (7/5/2015) dini hari.
Herry mengatakan, awalnya polisi menduga rumah mewah itu dijadikan sarang prostitusi berbasis online. Namun setelah didatangi, terdengar suara orang terjatuh dari dalam rumah itu, akhirnya polisi pun merangsek masuk.
"Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai aktivitas di rumah tersebut, tadinya kami mencurigai adanya praktik prostitusi online di situ," ujar Herry.
Setelah masuk, ditemukan sekitar 33 WN Tiongkok di dalam rumah tersebut, yang kebanyakan tidak memiliki dokumen keimigrasian resmi. Selain itu ditemukan juga puluhan unit HP dan telepon PSTN (Public Switched Telephone Network) yang diduga sebagai sarana untuk melakukan penipuan.
Berdasarkan keterangan awal dari beberapa WNA itu, mereka melakukan tindak pidana penipuan dengan sasaran tipu para pejabat dan tokoh terkenal di Tiongkok yang sedang jadi perbincangan.
"Ketika kami tanya, mereka tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia dan Inggris," imbuhnya.
(jor/jor)











































