"Nggak apa-apa, kita sudah kirim surat kepada mereka. Opsi rupiah per kilometer (Rp/Km) kita sudah sampaikan berapa kali dalam YouTube, mereka datang rapat dengan saya. Ini Organda yang mana?" kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2015).
"Organda juga nggak sama kompaknya," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga masyarakat tidak terbebani dengan penarikan uang tunai lagi di luar biaya tiket bus Rp 3.500. Namun para operator APTB dan Organda menolaknya karena menganggap DKI kekurangan jumlah armada bus untuk melayani penumpang, jadinya mereka bisa berada sedikit di atas angin untuk memberlakukan tiket di dalam bus.
"Kamu beli bus bagus nanti bayarnya sudah gua bayar Rp/Km, kamu nggak usah mikirin ngetem, penumpang, depo dan servis kita aturin, lu tahunya untung saja deh. Itu yang kita tawarin. Tapi mereka kelihatannya kita akan gagal nih kayak lelang kemarin. Jadi menurut saya ini bagian dari nekan DKI," terangnya.
"Saya ngerti bus kami kurang. Gini deh, kamu boleh masuk dan boleh ambil penumpang di kita, tapi kalau penumpang Trans Jakarta antar halte kalau naik yang kamu tampung dong. Nanti pas kamu pulang ke kampung kamu lagi, baru dicek kan pakai tiket nih baru tarik. Adil kan. Kamu mau pilih opsi ini sambil tunggu lelang atau kalau kamu nggak mau bantu kita angkut, kamu di luar saja," sambung Ahok.
Ahok menyikapi 'gertakan sambal' Organda dan operator APTB yang memilih hanya beroperasi sampai dengan halte perbatasan itu dengan santai. Kalau pun dia dicacimaki oleh warga, baginya sudah bukan hal baru.
"Ini yang kurang ajar saya bilang, kita mau di luar saja. Kenapa dia berani karena hitung kita bus TransJ kurang. Saya kalau kamu gertak, gertak saja 2-3 bulan. Paling dicaci maki warga DKI kurang bus, nggak apa-apa Ahok mah sudah biasa dicaci maki kok. Santai saja saya mah," pungkasnya.
(aws/jor)










































