Namanya Dissa Syakina Ahdanisa, usianya masih 25 tahun. Namun siapa sangka wanita yang bekerja sebagai equity analyst di Credits Suisse, Singapura itu adalah sosok yang mengagas berdirinya kafe yang mempekerjakan 5 orang dengan gangguan pendengaran (tunarungu) di Pamulang, Tangerang Selatan.
Dissa bercerita soal idenya membuka kafe namun dengan sumber daya orang-orang yang memiliki keterbatasan mendengar dan bicara. Kafe itu diberi nama 'Deaf Kafe Finger Talk'.
"Sebenarnya saya ingin buka lapangan pekerjaan yang jadi opsi bagi tunarungu bahwa ini loh pekerjaan yang mereka bisa bekerja," kata Dissa saat ditemui detikcom di kafenya di Jalan Pinang No 37, Pamulang Timur, Tangerang Selatan Selasa (5/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dissa juga pernah menjadi relawan selama 3 bulan di Nikaragua untuk sebuah organisasi yang peduli pendidikan anak-anak yang berkekurangan dan malnutrisi, sebelum akhirnya diterima bekerja di Credit Suisse, Singapura. Saat menjadi relawan di negara Amerika Latin itulah cita-citanya untuk membangun sebuah kafe bagi penderita tunarungu menguat.
"Di sana saya ketemu orang Spanyol yang bikin kafe yang pegawainya orang tunarungu, dan mereka punya workshop atau pusat pelatihan seperti membuat kasur gantung," ucap wanita berjilbab yang ramah senyum itu.
Sepulang dari Nikaragua, Dissa pada akhir 2014 diperkenalkan seorang rekannya Bu Pat Sulistowati mantan ketua Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia. Kepada Bu Pat yang juga tunarungu, Dissa menyampakan keinginannya untuk membangun kafe dengan pelayan orang-orang tunarungu.
Gayung pun bersambut, Bu Pat yang sudah lama mengelola tempat pelatihan bagi beberapa orang dengan keterbatasan pendengaran, mempersilakan Dissa menggunakan bangunan rumah di samping ruang worskhop menjahit dan menyulam bagi tunarungu.
Di lokasi yang dulunya gudang itulah Dissa menyulapnya menjadi kafe 'Finger Talk' dengan mempekerjakan 5 orang pelayan tunarungu dari berbagai daerah, sementara di sampingnya ruang pelatihan bagi tunarungu yang kini berusia lanjut namun mahir menjahit dan menyulam.
Soal konsep kafe yang digagas Dissa, relatif sama dengan kafe pada umumnya. Yang membedakan tentu pola interaksi pelayan dengan pengunjung yang menggunakan bahasa isyarat. Dissa sempat mempelajari bahasa isyarat di Nikaragua, dan kini diperdalam melalui kursus di Associaton for the Deaf, Singapura.
"Saya ingin buat tempat tunarungu dengan kita itu bisa duduk bareng dalam satu tempat," ujar wanita yang fasih bahasa Inggris, Jepang dan Spanyol itu.
Di kafe itu, menu makanan dan minuman beragam jenis disediakan yang kesemuanya diolah dan dilayani oleh orang-orang dengan keterbatasan pendengaran dan berbicara. Soal rasa, tak kalah dengan yang lain karena meski tunarungu, salah seorang dari mereka ada seorang koki.
"Friska (25), pernah kursus tata boga di Bali," ujarnya.
Saat ini, mesti Dissa bekerja di Singapura, dia tetap menjalankan kafe yang berada di Pamulang itu dengan pulang Sabtu-Minggu ke Indonesia. "Sekarang kebetulan lagi libur, besok (hari ini -red) pukul 15.00 WIB kembali ke Singapura," ucap wanita yang kini tengah kursus Bahasa Arab di Singapura itu.
(bal/van)











































