Frisca, Wanita Tunarungu Pelayan Kafe 'Finger Talk' yang Jago Masak

Frisca, Wanita Tunarungu Pelayan Kafe 'Finger Talk' yang Jago Masak

- detikNews
Rabu, 06 Mei 2015 12:06 WIB
Frisca, Wanita Tunarungu Pelayan Kafe Finger Talk yang Jago Masak
Foto: Iqbal/detikcom
Pamulang, -

Tangannya piawai membolak-balikkan potongan ayam bakar di atas sebuah kuali dengan api tak terlalu besar. Bumbu ayam itu diraciknya sendiri hasil keterampilannya memasak. Begitu juga saat dia mengolah sebuah menu salad dengan plating yang ciamik.

Dialah Firsca (25), wanita muda asal Bali itu adalah seorang tunarungu, alias memiliki keterbatasan dalam mendengar dan bicara. Namun, di tangannya sajian chicken garlic, tuna lemon sauce, salad, hingga sayur asem menggoda selera.

"Dulu saya pernah kerja pasang atap dan kerja di komputer. Tapi saya keluar karena ayah saya pindah ke Manado. Setelah dari Manado saya ikutayah tiri saya ke Bali sendiri," ucap Frisca dengan bahasa tubuh yang diterjemahkan sang pemilik Kafe Dissa, saat ditemui detikcom di 'Deaf Kafe Finger Talk' di Jalan Pinang, Pamulang Timur, Tangerang Selatan, Selasa (5/5/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Bali itulah kepiawayainnya memasak Frsica bermula. Dia mengaku pernah mengikuti kursus memasak selama dua minggu di sebuah hotel di Bali, hingga mendapatkan sertifikat lulus kursus. "Alhamdullilah," ucap Frisca dengan gerakan kedua telapak tangan terbuka ke depan.

"Di Bali saya cari kerja susah, saya sedih. Saya bertemu Nurul (20) di Bandung, akhirnya saya cari kerja di Bandung. Ternyata tetap susah. Teman-teman ada yang bilang di sini ada kerja di kafe. Saya mau, saya senang ketemu teman-teman," paparnya.

Frsica diandalkan sebagai juru masak di kafe "Finger Talk', dibantu 4 orang rekannya yang juga tunarungu. Mereka adalah Nurul (20) asal Bandung, Wawan (27) asal Jember, Sari (30) asal Bandung, dan Santi (31) asal Pamulang.

"Kalau ada tamu datang saya lihat saya deg-degaan. Tapi saya harus tenang, saya berdoa kepada Tugan dan saya minta bantuan teman. Tolong bantu saya, akhirnya saya senang bisa semangat," ujarnya wanita berambut pendek itu tersenyum.

Sementara rekannya, Futri Nurul Andriyani (20), menceritakan dirinya belum pernah bekerja di manapun karena sulinya mencari pekerjaan yang bisa menerima tunarungu. Padahal, dia punya keterampilan menjahit dan bekerja di salon.

"Senang bisa kerja. Semangat, alhamdullilah. Teman-teman di sini baik, banyak yang ajarin Nurul," ucapnya dengan gerakan tubuh yang diterjemahkan.

"Aku bercita-cita ingin bekerja membuat kafe atau restoran atau kue sendiri," imbuh perempuan muda berambut panjang itu.

Adalah gagasan Dissa Syakina Ahdanisa (25) yang membangun kafe 'Finger Talk itu. Wanita muda lulusan bisnis admisnistrasi Ritsmumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang itu ingin membangun harapan bagi orang-orang dengan tunarungu.

"Saya ingin tunarungu punya akses pada pekerjaan, saya bikin kafe ini biar masyarakat berbaur dengan orang tunarungu," ucap perempuan berjilbab itu.

Pelanggan yang datang ke kafenya akan dilayani dengan 5 orang pelayan tunarungu yaitu Nurul dan kawan-kawan. Sekalipun orang yang tak pernah belajar bahasa isyarat, namun Dissa menyiapkan beberapa bahan untuk bisa dipraktekkan langsung pelanggan berbahasa isyarat.

"Siapa saja bisa belajar di sini. Nggak cuma datang untuk makan di kafe, tapi belajar dengan mereka (tunarungu) atapun datang ke workshop," ucap wanita muda yang kini bekerja di Credits Suisse, Singapura itu.

(bal/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads