Selalu saja muncul cerita ulah sipir di Lembaga Pemasyarakatan yang tak terpuji. Godaan memang berat datang ke para sipir. Tak kuat mental, bisa dijamin si sipir masuk lingkaran setan suap dan pungli.
Handoyo yang baru saja mundur dari Dirjen Pemasyarakatan punya cerita soal sipir ini. Menurut dia, jumlah rasio sipir dan napi amat tak sebanding. Paling sedikit saja 1 berbanding 45. Belum lagi, ada sipir yang baru lulus SMA dan dengan mental yang masih belum stabil menghadapi para napi. Kondisi ini malah membuat sipir yang diawasi napi.
"Kami dahulu komunikasi dengan Kemenpan, untuk merekrut TNI," jelas Handoyo saat berbincang, Rabu (6/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebutuhan untuk pengawas itu 12 ribu, tapi dari akademi pemasyarakatan saja setahun hanya 65. Bayangkan kekurangannya tenaga pengawas," imbuh dia.
Awalnya, para TNI ini akan berjaga di Lapas yang rawan konflik seperti di Nusakambangan, di Aceh, kemudian di Papua. Di Lapas di lokasi tersebut pernah ada insiden sipir yang diintimidasi.
"Di Nusakambangan itu kan ada insiden baiat, di Aceh itu ada insiden kombatan mengancam para sipir, demikian juga di Papua, sipir diancam juga keluarganya," tegasnya.
MoU antara Panglima TNI dan Kemenkum HAM sudah dilakukan, namun tetap masih ada kendala yakni anggaran yang belum cair.
"Sipir itu menghadapi kendala soal mental disiplin dan kesejahteraan," tutupnya.
(ndr/mad)











































