Pemimpin Dunia Kecam Bom Beirut, Suriah Dicurigai
Selasa, 15 Feb 2005 11:25 WIB
Jakarta - Para pemimpin dunia mengecam peledakan bom di Beirut yang menewaskan mantan Perdana Menteri (PM) Libanon Rafiq Hariri. Ada pula yang mengarahkan kecurigaan mengenai pelaku serangan kepada Suriah.Suriah juga mengritik insiden tersebut dan menyalahkan orang-orang yang ditudingnya berusaha menebarkan perpecahan. Demikian seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (15/2/2005).Presiden AS George W Bush "terkejut dan marah" dengan pengeboman yang menewaskan Hariri dan sembilan orang lainnya. Demikian disampaikan Juru bicara Gedung Putih Scott McClellan. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice langsung membahas masalah ini dengan Sekjen PBB Kofi Annan. Rice juga berencana untuk membicarakan insiden ini dengan pemerintah Prancis.Kecaman juga datang dari pemerintah Prancis. Presiden Jacques Chirac mendesak digelarnya investigasi. "Prancis sangat mengecam kejahatan ini. Prancis meminta diadakan penyelidikan internasional segera untuk mengetahui seputar tragedi ini dan siapa yang bertanggung jawab," demikian statamen kantor presiden Prancis.Pemerintah Arab Saudi menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Ditekankan bahwa Saudi "menolak penuh aksi teroris terhadap orang-orang yang tidak bersalah yang ingin menciptakan kekacauan dan kehancuran".Seorang figur politik Libanon, Michel Aoun secara lugas menyalahkan Suriah atas serangan bom itu. "Mereka bertanggung jawab. Merekalah yang mengendalikan dinas keamanan dan intelijen di Beirut," cetusnya.Pemerintah Israel juga menuding bahwa kelompok-kelompok garis keras yang didukung Suriah mungkin terlibat dalam kejadian ini. "Saya tidak bisa memastikan bahwa Suriah berada di belakang serangan itu namun ada banyak kelompok yang bisa melakukannya," tutur Menlu Israel Silvan Shalom saat bertemu Presiden Chirac di Paris, Prancis. Chirac berteman baik dengan Hariri.Sementara pemerintah Iran mencurigai Israel sebagai dalang serangan ini. "Struktur teroris yang terorganisir seperti rezim Zionis punya kemampuan untuk operasi seperti itu yang tujuannya untuk merusak kesatuan Libanon," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Reza Asefi seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.Otoritas Palestina juga mengutuk insiden tersebut. Juru bicara Otoritas Palestina, Nabil Abu Rudeina menyebut ledakan tersebut sebagai "kejahatan terhadap rakyat Libanon dan pukulan bagi stabilitas Libanon."
(ita/)











































