Presiden Lembaga tersebut, Pamella Geller mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan untuk memberikan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Untuk gambar terbaik dalam lomba tersebut diganjar dengan hadiah US$ 10 ribu (sekitar 130 juta).
Pamella dan AFDI memiliki program besar untuk menghentikan apa yang disebutnya "islamisasi Amerika dan islamisasi dunia". "Saya anti jihad dan anti-syariah," tuturnya dalam wawancara dengan CNN, Selasa (5/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kontes tersebut, sempat pula diwarnai insiden penembakan terhadap dua orang muslim yang telah menembaki seorang petugas keamanan. Kepolisian Garland, kemudian langsung menembaki kedua penembak dan menewaskan keduanya.
Berikut tiga tokoh agama islam dan politikus Indonesia yang mengecam kontes lomba menggambar nabi Muhammad tersebut:
1. Fahri Hamzah
|
|
"Kontes itu menandakan kejahilan barat pada agama. Inilah bencana sekularisme karena mereka tidak paham bahwa agama adalah mutiara dalam lumpur modernitas yang justru harus diangkat," kata Fahri dalam pesan singkatnya, Selasa (5/5/2015).
Fahri pun mengatakan bahwa kegemaran yang menyudutkan simbol agama jadi penanda kejatuhan peradaban negara-negara Barat.
"Ini adalah awal kebangkrutan peradaban mereka," ujar Wakil Sekjen PKS itu.
Lantas, apa perlu Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia dipanggil untuk dimintai penjelasan? Fahri berpendapat hal tersebut diperlukan agar warga dan pemerintah Negeri Paman Sam itu paham penghinaan simbol agama itu termasuk pelanggaran HAM.
Namun menurut Fahri, pemanggilan Dubes AS ini mesti dipelopori dengan upaya dialog yang sehat.
"Ada baiknya Presiden melalui Kementerian Luar Negeri memulai tradisi baik itu. Memanggil duta besar untuk memberi pemahaman bahwa menghina nabi dan simbol agama itu juga pelanggaran HAM. Tradisi ini sudah dimulai Pak SBY yang mengusulkan konvensi internasional tentang penghinaan agama," sebutnya.
Komisi VIII DPR
|
Pamela Geller (reuters)
|
Kontes yang kontroversial ini sempat pula diwarnai insiden penembakan terhadap dua orang yang dicurigai membawa bom. Ketua Komisi VIII DPR Saleh Daulay mengecam keras digelarnya kontes yang dianggap menistakan agama tersebut.
"Saya sangat mengecam, menyayangkan adanya kontes semacam itu. Itu tindakan penghinaan agama Islam. Kenapa itu masih dilakukan? Masyarakat Islam dunia akan merespon soal ini," kata Saleh saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (5/5/2015).
Dia menyayangkan sebagai negara demokrasi, pemerintah Amerika Serikat tak bisa menjaga martabat negaranya. Hal ini sebenarnya tak perlu terjadi jika pemerintah Negeri Paman Sam itu punya toleransi tinggi terhadap kebebasan memeluk agama.
"Mereka toleransi pendapat okelah. Tapi, kenapa hal ini terjadi lagi? Mestinya kasus di Prancis jadi pembelajaran. Negara demokrasi seperti Amerika harus bisa jaga toleransi kebebasan berpendapat, artinya agama juga," sebutnya.
Ia mengingatkan aksi penembakan oleh orang tak dikenal di kantor majalah Prancis, Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang termasuk kartunis majalah tersebut. Kejadian ini mestinya jadi pembelajaran oleh setiap negara.
"Sudah jelas, ini melukai. Jangan dilakukan agar tak menimbulkan korban jiwa. Kan selalu, selalu kontroversial, menelan banyak korban," katanya.
Kemudian, apakah perlu memanggil Duta Besar Amerika Serikat terkait persoalan ini? Ia berpendapat hal ini belum perlu dilakukan.
Namun, hanya perlu diingatkan jika sebagai negara besar, warga Amerika Serikat mesti sadar untuk menjaga toleransi.
"Ini kan bukan pemerintah pemerintah. Tapi, warga negaranya. Tolong sadar, paham, dalam kehidupan ini ada perlu kehormatan yang harus dihargai," sebutnya
PBNU
|
|
Pengurus Besar (PB) NU juga mengecam dengan keras kontes kartun Nabi Muhammad yang digelar di Texas, Amerika Serikat (AS). Menurut Ketua Umum PB NU Said Aqil, ulah tersebut tidak bisa diterima umat Islam.
βJelas kami sangat menyesalkan adanya acara itu, karena itu bentuk pelecehan terhadap agama (Islam),β kata Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj dalam rilisnya kepada detikcom, Senin (4/5/2015).
Said Aqil menyesalkan jatuhnya 2 korban tewas dalam acara tersebut. Dua orang itu ditembak polisi karena menembaki tempat acara itu berlangsung dengan senjata api.
βSaya mendengar sampai terjadi penembakan dan jatuh dua korban jiwa. Kejadian seperti itu seharusnya bisa dihindari jika pemerintah setempat lebih peka,β kritik Said Aqil.
Meski mengecam kegiatan itu, Said Aqil meminta kepada umat Islam dunia, khususnya di Indonesia, untuk tidak terpancing emosinya. Jangan sampai membalasnya dengan tindakan bersifat anarkis.
βJangan habiskan energi kita untuk membalas hal-hal seperti itu, apalagi dengan tindakan anarkis. Percaya, Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang melecehkan Islam,β pesannya.
Lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW diselenggarakan oleh American Freedom Defense Initiative, sebuah organisasi yang secara aktif terus menyebarkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat. Acara tersebut dihadiri oleh politikus ternama Belanda, Geert Wilders yang selama ini dikenal sebagai tokoh anti-muslim.
Presiden lembaga tersebut, Pamela Geller, mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Gambar terbaik dari lomba tersebut diganjar hadiah US$ 10 ribu (sekitar Rp 130 juta).
Halaman 2 dari 4











































