"Kalau evaluasi ya presiden lah, masa kita (yang) evaluasi," ujar Menteri Ferry usai bertemu dengan Wapres JK di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2015).
Ferry menilai, rencana perombakan kabinet ini merupakan evaluasi kinerja para pembantu presiden. Sama halnya dengan yang ia lakukan kepada bawahannya. Dia juga menyebutkan, waktu perombakan kabinet ini memiliki parameter garis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama kan dibilang 6 bulan, akan ada evaluasi. Oh ini parameter garis," tambahnya.
Ferry sendiri mengaku belum ada komunikasi dengan Presiden Jokowi terkait kabar perombakan kabinet itu. Ini dikarenakan memang tugas dan posisinya sebagai pembantu presiden, yang tidak mencampuri kebijakan perombakan itu.
"Nah itu tugas presiden (evaluasi) bukan kami. Presiden mengevaluasi kami gitu lho. Saya siapa? Orang pembantu presiden kok ikut-ikutan," katanya.
Meski demikian, Ferry menjelaskan, kinerjanya sebagai menteri selama lebih kurang 6 bulan ini berhak dinilai oleh Presiden dan masyarakat. Dia tak mau menegaskan dirinya sudah sesuai jalur.
"Yang merasakan masyarakat, yang merasakan jajaran, yang merasakan presiden, udah gitu aja. Masa kita bilang on the track. Tau-tau offside kita," katanya.
Lalu, siapkah Ferry jika dirinya direshuffle?
"Ya kan saya bilang, kalau kita ini namanya ditugaskan, diminta, ditugaskan untuk membantu. Pada saat dia tidak merasa terbantu masa kita harus marah ke dia. Tenang aja kalem aja lah," jawabnya.
(jor/van)










































