Terendamnya kampung, membuat 3.810 makam yang tadinya sudah terlihat muncul ke permukaan kini kembali tenggelam dan dipenuhi oleh eceng gondok.
Padahal proses pengeringan yang dimulai sejak pertengahan tahun 2014 lalu itu telah menelan anggaran lebih dari setengah miliar rupiah. Selain itu, anggaran pemindahan ribuan makam yang bernilai Rp 5 miliar juga tanpa kejelasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi kondisi kampung saat ini malah makin memprihatinkan karena semakin banyaknya eceng gondok termasuk berkembangbiaknya ular.
"Sekarang kondisinya lebih ngeri lagi karena air semakin naik dan eceng gondok semakin banyak. Dan pertumbuhan ular di dalamnya juga semakin berkembang," jelas Juhri.
Dia menyesalkan upaya pemerintah yang tampak setengah hati menyelesaikan pekerjaannya. Baginya, ini seperti proses pembunuhan terhadap masyarakat yang tinggal di dalam kampung.
"Kalau lihat begitu, kepercayaan kita sama pemerintah juga hilang. Sudah gak ada harapan lagi untuk kampung ini," terangnya.
Juhri yang juga pernah menjabat sebagai ketua RW 01 di Kampung Apung berharap pemerintah benar-benar memikirkan rakyat. Jangan hanya janji-janji belaka dan membuat warga sengsara.
"Inginnya hak hidup masyarakat yang layak dijamin. Kita tidak tinggal di bantaran kali. Kita tinggal di tanah kita sendiri yang rusak karena kebijakan pemerintah itu sendiri," tutup Juhri.
(spt/fdn)











































