Tim Indonesia Peduli Nepal akan membangun tenda rumah sakit darurat pada Selasa (5/5) besok di Satungal, Nepal. Pembangunan rumah sakit ini disambut dengan janji warga setempat yang akan membantu proses perakitan tenda.
"Penduduk 35 ribu orang, bisa sampai 40 ribu orang karena banyak yang ilegal. Data awal 10 ribu orang tapi ternyata itu yang punya hak suara pemilu saja," kata Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjungan Tambunan.
Junjungan menyampaikan hal ini di Posko Indonesia Peduli Nepal, Kathmandu Guest House, Nepal, Senin (4/5/2015). Ia menambahkan, gempa 7,9 SR yang mengguncang Nepal pada 24 April lalu menyebabkan 228 rumah rusak berat, 157 rumah rusak sedang dan 148 rumah rusak ringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain rumah warga, gempa yang menyebabkan lebih dari 7.000 ribu orang meninggal itu juga menghancurkan 3 unit sekolah di Satungal. 20 Orang dari desa yang berjarak 45 menit dari posko tersebut turut menjadi korban meninggal.
"200 Orang luka berat, 70 orang luka ringan dan 35 fraktur patah tulang dan kasus depresi yang meningkat," ucap Junjungan.
"Kebutuhan warga setempat yang diprioritaskan adalah kesehatan primer, prlayanan post operasi, psikososial, pelayanan kesehatan anak dan ibu hamil, manula, hunian sementara dan pelayanan sekolah," tambahnya.
Menurut Junjungan, warga setempat berjanji membantu tim untuk membangun tenda rumah sakit darurat dan tenda lainnya. Sehingga tim berencana untuk menjalankan rumah sakit darurat itu dengan konsep community based.
"Masyarakat akan mendukung semua pelaksanaan pelayanan kesehatan dan proses recovery, mulai dari pendirian rumah sakit, pelaksanaan kegiatan dan pembentukan organisasi mendukung tim Indonesia," imbuh Junjungan.
(vid/mpr)










































