Kathmandu Kembali Berdetak, Wisatawan Ramai Lagi

Laporan dari Kathmandu

Kathmandu Kembali Berdetak, Wisatawan Ramai Lagi

- detikNews
Senin, 04 Mei 2015 10:09 WIB
Kathmandu Kembali Berdetak, Wisatawan Ramai Lagi
Kathmandu -

Menyusuri jalanan Kota Thamel, Nepal di akhir pekan, membuat turis seakan lupa akan gempa besar yang menimpa kota itu seminggu lalu. Dentuman musik khas Nepal, aroma wewangian dupa yang membubung di udara dari toko-toko yang menjual wewangian, hilir mudik wisatawan dan calon pendaki di pusat pusaran wisatawan Nepal membuat Kathmandu kembali berdetak.

Di sebuah sudut, dari sebuah toko penjual pakaian, terdengar suara Shanjay Khumar (34) berteriak memecah keramaian mengundang pembeli. Toko itu bernama Trance Trip Garment.

Shanjay sudah 6 tahun membuka toko di jalan KGH Road. Di toko milik Shanjay, ada pakaian, celana panjang, dompet kayu, aksesoris dan pernak-pernik Nepal pun ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ayo! Murah harganya. Mari beli, selagi ada," ujar pemilik sekaligus pedagang toko Trance Trip Garment, Shanjay Khumar dengan bahasa Inggris, Minggu (3/5/2015).

Saat detikcom mengajaknya berbincang, ia mengatakan bahwa sangat senang Nepal masih dikunjungi banyak turis. Meski gempa berskala 7,9 Skala Richter (SR) telah meluluh lantakkan sebagian kota di Nepal, namun wisatawan masih banyak berkunjung dan masih mempunyai keinginan untuk mendaki Gunung Everest.

Shanjay kemudian bercerita bahwa toko miliknya merupakan warisan keluarga. Ayahnya adalah seorang penjual kain dan ibunya, seorang penjahit pakaian.

Ketika ditanya apakah ada pakaian asal Indonesia, ia kemudian dengan semangat menunjuk ke salah satu sudut. Terlihat berjejer cardigan berbagai macam warna.

"Itu, baju buatan Bali, Indonesia. Baju itu sering sekali turis membelinya. Khususnya turis wanita. Dan saya selalu menaruhnya disitu (gantungan baju) hanya 20 potong baju," lanjutnya.

Dalam seminggu, cardigan asal Bali, Indonesia tersebut sudah tersisa 10 sampai 5 potong baju. Shanjay selalu menaruh cardigan di gantungan baju setiap hari Minggu.

Shanjay mematok harga perpotong baju sekitar NR 550 atau Rp 60.000. Cardigan-cardigan tersebut ia dapatkan dari penyuplai di daerah Khusi Bahil, selatan Kota Kathmandu.

Seorang turis asal Jakarta, Indonesia, yang kebetulan sedang berkunjung ke toko milik Shanjay, Deroli terkejut dan baru sadar ketika ia melihat label di kerah belakang baju yang tertulis 'Made in Indonesia'. Melihat itu, Dede merasa bangga saat produk Indonesia dijual di negara orang.

"Masa dari Indonesia? Wah, Indonesia hebat banget. Bangga lihat produk Indonesia ada disini (Nepal). Biasanya kan rata-rata asal baju dari Paris, Milan," tutur Deroli yang menemukan Tanah Air di negeri orang.

(ndr/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads