Tim gabungan penanganan bencana gempa Nepal dari Indonesia mendirikan tenda besar untuk sekolah darurat di Kathmandu. Usai mendirikan tenda, tim mendapatkan keramahan 'Chia' dari pengungsi gempa Nepal.
Hal ini terjadi di Asha Vidyashram School, Balaju, Kathmandu, Nepal , Minggu (3/5/2015). Tim berhasil mendirikan tenda biru besar berukuran β12 x 7 x 3 meter di halaman sekolah tersebut.
14 Orang anggota tim langsung beristirahat dengan bercanda ke pengungsi di sekolah tersebut. Sekolah tersebut berubah menjadi tempat pengungsian sejak gempa 7,8 SR mengguncang Nepal pada 9 hari lalu, lebih dari 6.000 orang tewas dan angka pengungsian ditaksir lebih dari 150 ribu orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini apa? Tea? Rasanya agak mirip bandrek ya," kata salah satu anggota yang menyicipi chia.
"This is tea with milk, Nepali tea. How do you say tea in Bahasa?" kata salah satu pengungsi.
Anggota tim yang lain pun menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan tea berarti teh dalam bahasa Indonesia. Namun ketika anggota tersebut menjelaskan milk berarti susu dalam bahasa Indonesia, para pengungsi tertawa bersamaan.
"Susu dalam bahasa Nepal berarti buang air kecil. Jadi minum teh kencing," kata pengungsi lainnya dalam bahasa Inggris sambil tertawa.
Anggota tim yang mendengarkan hal itu pun tak kuasa menahan tawa setelah mengerti alasan para pengungsi bisa lepas tertawa sebelumnya. Rasa chia sendiri mirip dengan teh tarik namun ada aroma jahe di tenggorokan.
Usai beristirahat sejenak dengan keramahan chia itu, tim kemudian berkoordinasi dengan masyarakat setempat untuk mensosialisasikan bantuan berupa tenda tersebut.
(vid/nal)











































