"Kami memilih CFD karena supaya bisa berbaur dengan masyarakat dan membawa suasana hangat," ujar Presiden Mahasiswa Trisakti Muhammad Puri Andamas di Bundaran HI, Jl Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (3/5/2015).
Aksi mereka diawali dengan long march dari Jl Sudirman menuju Jl Thamrin yang dilanjutkan dengan orasi. Setelag orasi selama sepuluh menit, aksi dilanjutkan dengan teatrikal tentang pendidikan.
"Di sini kami mencoba mendukung revolusi pendidikan di Indonesia. Kami mendukung langkah revolusioner yang dilakukan oleh Kemendikbud, tetapi kami masih menilai pendidikan belum merata," imbuh Puri.
Mahasiswa Teknik Pertambangan ini menambahkan bahwa dia dan rekan-rekannya juga aktif menggalang 'Trisakti Mengajar'. Program itu mengajak para mahasiswa Trisakti untuk mengajar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
"Ke depan kami juga akan menggandeng Indonesia Mengajar sehingga bisa dikirim ke seluruh wilayah Indonesia," kata Puri.
Selain isu pendidikan, ada juga isu reformasi yang diusung. Puri berpendapat bahwa kasus yang terjadi pada Mei 1998 belum diusut secara tuntas.
"Kami masih menilai bahwa kasus Mei 1998 adalah pelanggaran HAM berat. Kami menuntut diadakannya pengadilan HAM Ad Hoc sesuai dengan janji kampanye Presiden Jokowi dulu," tutur Puri.
Mahasiswa Usakti juga meminta agar keluarga korban Mei 1998 diperhatikan kesejahteraannya. Karena menurut dia peristiwa tersebut merupakan kesalahan penguasa saat itu.
"Harus ada rehabilitasi nama, bahwa itu kesalahan oknum pemerintah pada saat itu (1998)," pungkas Puri.
(bpn/nrl)











































