Grace Gabriella, begitu nama panjangnya, merupakan anak muda yang direkrut tim Satgas Illegal Fishing bentukan Menteri Susi Pudjiastuti. Ditemani oleh adik kelasnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Saraswati Kania, Grace blusukan ke Pulau Kaimana, Avona, Timika hingga Sorong di Papua Barat.
Sekilas, tidak ada yang bakal tahu bahwa Grace dan Kania adalah anggota Satgas. Berkulit putih, berparas cantik dengan umur rata-rata di bawah 25 tahun, sulit memang menduga mereka ternyata punya peran penting dalam analisa dan evaluasi sebuah kapal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepak terjang Kania juga tak bisa dianggap remeh. Sejak kuliah, dia sudah magang di UKP4. Begitu lulus pada Februari 2014, perempuan asal Bali ini bekerja di Redd+, menata dan mengelola perizinan di bidang lahan dan kehutanan. Hasil kerja Kania dan tim menjadi modul standard perizinan di BKPM.
Di satgas, tidak hanya Grace dan Kania saja anak muda yang geram dengan pencurian ikan oleh kapal asing. Masih ada lagi Andreas, Fadila, Aldila hingga Rozi yang tergabung dalam tim ini. Rata-rata mereka adalah angkatan 2008-2010 Fakultas Hukum UI.
Di Sorong, tugas Grace dan Kania tidak mudah. Grace harus lincah melompat di antara kapal-kapal untuk mengecek fisik dan peralatan kapal tersebut. Belum lagi jika kapal yang ingin diverifikasi lokasinya jauh dari daratan. Salah lompat atau kurang waspada, jatuh ke laut adalah risiko minimal yang dihadapi.
Grace juga tidak ada pakaian khusus dalam melakukan aksinya. Hanya sebuah topi untuk menjaga agar rambutnya tidak malah mengganggu pekerjaannya.
Sedangkan Kania kebetulan bertugas untuk mewancara perusahaan pemilik kapal. Kania sadar, umur muda seringkali membuat para perwakilan perusahaan sembarangan dalam menjawab pertanyaan mereka. Namun itu tidak menyurutkan semangat.
"Ya sudah nggak apa-apa, kita tanya saja terus sampai puas," ujar Kania. Berambut panjang, senyum terus merekah dari wajah Kania yang selalu semangat dalam bercerita.
Selain proses itu, tugas mereka berdua belum selesai. Data temuan di lapangan nanti akan disandingkan dengan pengakuan dan surat dari perusahaan. Hasil inilah yang nantinya akan dibawa untuk dipelajari Menteri Susi.
"Mending langsung diselesain pas hari itu juga, jadi kan masih fresh biar nggak lupa data-datanya," ungkap Grace. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIT dan mereka baru saja menyelesaikan laporan Anev di Sorong.
Bagi Kania, seluruh pekerjaan lapangan Satgas selalu menjadi pengalaman baru baginya. Apalagi jika dia menemukan fakta baru di lapangan yang tidak diduga-duga sebelumnya.
Grace sendiri mengakui pekerjaannya memang seakan terus diburu waktu. Belum lagi perjalanan yang panjang serta cuaca ekstrem membuat kondisi tubuhnya terkadang kelelahan.
"Namun rasanya, semua duka dapat ditutup oleh suka yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri. Karena pada akhirnya, kebenaran yang dikerjakan dengan kasih dan sukacita pasti bermanfaat dan berguna," tutup Grace yang bersyukur jadi bisa menjelajahi pulau-pulau terpencil di Indonesia.
(mok/ndr)










































