"Rata-rata malah yang cedera itu bukan pendaki gunung, namun porter yang bawa barang itu. Karena satu pendaki dua porter. Dan biasanya porter kan duluan jalan," ujar Vita saat berbincang dengan detikcom, Jum'at (1/5/2015).
Vita juga menambahkan bahwa rata-rata korban yang tewas itu diakibatkan karena longsoran salju yang cukup tebal dan akhirnya menimbun para pendaki dan porter tersebut. Menurut Vita, korban tewas yang ada di lereng Gunung Everest tidak mencapai 20 orang seperti yang diberitakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga bersyukur bahwa tidak mengikuti ajakan untuk naik ke Kala Pattar, bukit di daerah Pumori yang menjadi favorit para pendaki. Ia tak tahu lagi apabila tetap ikut untuk naik ke Kala Pattar.
"Kalau tim kita ikut ke Kala Pattar kami mungkin kegulung," ucapnya.
Vita berada di Nepal untuk mendampingi 4 orang yang berprofesi sebagai Dokter dari alumni kelompok Mapadok (Mahasiswa Pecinta Alam Kedokteran) Universitas Sultan Agung, Semarang yang akan naik ke Everest Base Camp. 4 Dokter itu bernama Meinard Mastoer, Prabudi, Eko Prasetyo, dan Achmad Novel.
(van/van)











































