Pimpinan KPK akan menempuh semua langkah termasuk berkomunikasi dengan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti terkait penangkapan Novel Baswedan. Pimpinan KPK juga akan mengajukan penangguhan jika Novel akan ditahan. Jika semua itu gagal maka langkah lain akan ditempuh.
"Nanti ada upaya lain, kalau jalan lain ini tidak berhasil, saya salah satu pimpinan yang tak punya niat mengejar jabatan saya akan mundur," kata Indriyanto dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (1/5/2015) pukul 10.30 WIB. Indriyanto didampingi pimpinan KPK lainnya yaitu Johan Budi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita membangun komunikasi kelembagaan ini sejak saya masuk ke dalam sini, ini bukan hal yang gampang. Kalau yang saya sampaikan tersebut terjadi, saya akan mundur," katanya lagi.
Namun Indriyanto tak memaksa pimpinan KPK lain mengikuti jejaknya. "Apakah pimpinan lain mengikuti jejak saya, saya serahkan ke pimpinan yang lain. Pimpinan di sini punya kebebasan, kalau saya membangun komunikasi kelembagaan penegak hukum tidak berhasil lebih baik saya kembali ke akademik yang sekarang banyak mahasiswa saya terlantar," pungkas Indriyanto. (Baca juga: Indriyanto: Saya Jaga Marwah KPK, Kalau Novel Ditahan Kami Mundur).
Novel ditangkap tengah malam tadi di rumahnya di Kelapa Gading. Penangkapan itu terkait kasus lama yang dituduhkan kepadanya yakni kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet di Bengkulu tahun 2004 lalu saat dia menjadi Kasatreskrim Polres Bengkulu. Kasus ini mencuat kembali ketika Polri berseteru dengan KPK pada 2012 dan Novel menjadi penyidik KPK. Sempat dihentikan penyidikannya atas 'perintah' Presiden SBY, kasus ini kembali hidup di era Presiden Jokowi. Polri berdalih, pihaknya harus mengusut kasus Novel karena tahun depan kasus itu sudah kedaluwarsa.
(van/nrl)











































