"Kasihan kan yang kerja setengah mati, yang status staf tidak ada struktur jadi oknum meres situ, meres sini ngajarin wajib pajak wajib pungut objek pajak untuk main. Terus pembagiannya sama," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2015).
Ahok menyebut mental oknum pajak seperti itu harus diluruskan sehingga, 'pembuangan' oknum pajak yang senang melobi-lobi untuk kepentingannya bisa memberikan ruang bagi pegawai DPP yang jujur untuk mendapatkan reward dari Pemprov DKI Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya saya bilang ke mereka stafkan dan pindahkan ke luar saja supaya yang kerja siang malam setengah mati dapat pembagian yang lebih jelas daripada sudah nyolong dapat pembagian lagi, kan lucu," ujar Ahok.
Terhadap dua pegawai yang sudah dimutasi dari DPP, Ahok memberi apresiasi kepada Agus. Ahok menilai lebih baik menggandeng masyarakat untuk mengawasi pajak sehingga uang untuk membayar upah pegawai pajak yang dirampingkan olehnya dapat dialihkan kepada masyarakat Ibu Kota yang telah berpartisipasi.
"Lebih baik duit yang tadinya buat bagi insentif kepada oknum yang korupsi, lebih baik duitnya kita bikin masyarakat dapat hadiah. Kalau tiap orang sebulan dapat hadiah Rp 10 juta dan ada 200 orang, baru Rp 2 miliar. Daripada gaji orang nggak karuan," sebut Ahok.
"Orang pajak masih banyak yang bagus. justru saya bisa tahu ini semua kan dari laporan orang pajak. Makanya saya yakin di atas 50 persen orang Dispenda DKI (DPP DKI) itu masih baik. Mereka senang dapat bonus, kayak gaji naik senang. Makanya dia kerja dengan baik," sambungnya.
Dia pun mengingatkan kepada seluruh pegawai DPP DKI agar tidak silau harta. Dia berharap semuanya bisa mengambil intisari dari kasus pengemplangan pajak di pusat, Gayus Tambunan.
"Tapi yang sebagian kan memang keserakahan. Enggak beda lah dulu kasus di pemerintah pusat ada Gayus," tutup Ahok.
(aws/aan)










































