HUT ke-63, Kopassus Kini Dinilai Lebih Humanis dan Strategis

HUT ke-63, Kopassus Kini Dinilai Lebih Humanis dan Strategis

- detikNews
Rabu, 29 Apr 2015 08:28 WIB
HUT ke-63, Kopassus Kini Dinilai Lebih Humanis dan Strategis
Jakarta - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) kini memasuki usia ke-63. Korps elite baret merah yang dipimpin Mayjen TNI Doni Monardo itu kini dinilai lebih humanis dan strategis.

"Seiring dengan pergeseran ancaman yang dihadapi pasukan khusus militer secara global, Kopassus kini di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Doni Monardo perlahan tapi pasti bermetamorfosa menjadi pasukan khusus yang meski pun tetap memiliki ketangkasan dan kehebatan militer khusus serta operasi Sandi Yudha tetapi lebih humanis dan strategis," ujar pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati dalam pesan tertulis, Rabu (29/4/2015).

Hal ini dikarenakan adanya kesadaran penuh bahwa era perang tradisional yang mengandalkan otot bisa dikatakan hampir tak ada lagi. Ada pun yang kini harus 'diperangi' adalah berbagai ancaman faktual dan gangguan nyata yang berupa perang cyber, perang proxy, terorisme dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Grup 3 Kopassus bertugas pokok menyelenggarakan operasi Sandi Yudha dan operasi khusus lainnya terhadap sasaran yang bersifat strategis terpilih dalam rangka mendukung tugas pokok Kopassus. Sandi Yudha sebagai suatu operasi intelijen dalam tubuh Kopassus kini dituntut lebih piawai dalam melaksanakan operasi yang sifatnya pencegahan, preemptif dan cipta kondisi," jelas wanita yang akrab disapa Nuning ini.

Menurut Nuning, Kopassus tak punya musuh. Jika ada, musuhnya adalah musuh negara. Dalam peringatan HUT pagi ini, Kopassus mengundang beberapa tokoh penting dari berbagai pihak yang di masa lalu 'berhadapan' dengan Kopassus.

Rencananya yang akan hadir adalah tokoh-tokoh mantan OPM Papua, dari Timor Leste ada ex Falintil, Pasukan Klandestein, mahasiswa Timtim yang ada di Indonesia.

"Jadi bagi Kopassus bila pun ada gangguan nyata dan ancaman faktual yang dibunuh kemauan/hasrat perangnya dan ideologinya yang berbahaya bagi kedaulatan NKRI. Adalah suatu keniscayaan melibatkan masyarakat sebagai agen informal dalam early warning system/early detection. Ini penting utamanya dalam penanganan terorisme. Hal itu menurut saya memang harus demikian karena terorisme/hal sejenis tak mungkin berhenti bila ideologinya tak kita ubah dengan ideologi yang benar," papar mantan anggota Komisi I DPR ini.

Nuning setuju dan mendukung dengan ide cemerlang Mayjen Doni Monardo terkait seringnya gesekan di lapangan antarmatra. Menekankan agar prajurit jaga silaturahmi, saat jumpa siapa pun lakukan 3S (senyum, sapa, salam) dan jangan lakukan 3M (melotot, marah, memukul).

"Hal ini sangat bermanfaat bagi soliditas pasukan serta baik bagi hubungan silaturahmi dengan pihak-pihak lain utamanya dari matra TNI lain dan Polri serta komponen masyarakat, sehingga tak perlu lagi ada peristiwa semacam tragedi Cebongan di masa lalu," kata Nuning.

"Mungkin banyak dari kita yang lupa atau bahkan tidak paham, bahwa Kopassus itu adalah alat negara yang paling ampuh untuk menyelesaikan tugas negara yang memerlukan penyelesaian dengan cara militer yang terukur, dan memiliki tuntutan keberhasilan pelaksanaan tugas yang tinggi. Jadi Kopassus itu 'hanya alat', bukan yang memiliki alat, dan bukan pula yang menggunakan alat," imbuhnya.

Nuning melihat Kopassus memang didisain sebagai pasukan khusus bukan satuan khusus. Dilatih secara khusus untuk laksanakan operasi khusus pada satuan strategis yang terpilih karena itu Kopassus harus selalu eling lan waspada.

"Terakhir saya rasa pasukan khusus di seluruh dunia penting menyesuaikan diri dalam perubahan ancaman global yang tentu berbeda 5 atau 10 tahun lalu. Masalahnya kita yang anggarannya pas-pasan ini bagaimana menyiasati ancaman yang mensyaratkan kebutuhan teknologi modern yang pastinya mahal itu.


(mpr/bar)


Berita Terkait